DEPOK (10/08/2026) – Seorang kreator konten dan konsultan pendidikan asal Indonesia, Najwa Nur Awalia (24), membagikan pengalaman inspiratifnya saat mengeksplorasi Provinsi Guizhou, China barat daya, dalam rangkaian program pertukaran pemuda internasional pada awal Agustus. Kunjungan yang diikuti oleh perwakilan dari sepuluh negara—termasuk Brasil dan Thailand—ini memberi ruang bagi lulusan geografi lingkungan tahun 2024 tersebut untuk menyelami budaya lokal secara mendalam, mulai dari menjajal seni rias wajah tradisional hingga menyaksikan langsung geliat industri teh olahan modern.
Salah satu momen berkesan bagi Najwa terjadi saat menyambangi kota kuno Longli di wilayah Jinping, sebuah kawasan benteng bersejarah era Dinasti Ming (1368-1398) yang kini masuk dalam proyek ekomuseum kerja sama pemerintah China dan Norwegia. Di lokasi ini, Najwa berkesempatan mencoba seni lukis wajah khas kota setempat yang biasa dipadukan dalam seni pertunjukan tari naga. Dengan memadukan motif kupu-kupu favoritnya ke dalam riasan tradisional dalam hitungan menit, Najwa mengaku terkesan akan kepiawaian para seniman lokal dalam menyatukan elemen sejarah dan ekspresi personal. Tidak berhenti di situ, ia juga dipandu oleh maestro seni lokal Wang Zhenwei untuk mempraktikkan gerakan dasar tari naga, yang menurutnya memberikan pelajaran berharga mengenai arti penting kebersamaan, ritme, dan kerja sama tim.
Selain interaksi budaya di kota kuno Longli, agenda kunjungan Najwa dilanjutkan ke wilayah Jiangkou untuk menjelajahi kebudayaan teh dan seni diancha—teknik mengaduk bubuk teh warisan Dinasti Song (960-1279). Sebagai penggemar matcha, ia berkesempatan mempelajari proses produksi, variasi suhu penyangraian, hingga pemanfaatan matcha yang sangat fleksibel di industri kuliner China, seperti pada biskuit, pencuci mulut, hingga kentang goreng. Perkembangan sektor ini terlihat dari pencapaian produsen lokal Gui Tea Group yang sukses membukukan penjualan matcha lebih dari 2.500 ton pada tahun 2025 dengan nilai output menembus 500 juta yuan, serta telah mengekspor produknya ke lebih dari 50 negara termasuk Indonesia.
Melalui keramahan warga lokal yang menyambutnya hangat meski terbatas kendala bahasa, Najwa menilai perjalanan ini memberikan perspektif baru yang berharga mengenai pelestarian warisan budaya takbenda dan kemajuan industri di China. Sepulangnya ke Tanah Air, kreator muda ini berkomitmen untuk mengemas pengalaman otentiknya ke dalam konten media sosial guna mengedukasi generasi muda Indonesia, sekaligus mempererat jembatan komunikasi dan persahabatan antar kedua negara.


































