Depok (26/11/2025) – Kontroversi global mengenai kredit penemuan bunga langka ** Rafflesia hasseltii ** di Sijunjung, Sumatera Barat, kini memasuki babak resolusi. Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan bahwa lembaga riset Indonesia akan mengambil posisi kepemimpinan dalam publikasi ilmiah internasional yang akan datang.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritikan publik setelah unggahan awal Oxford University mengenai temuan Rafflesia tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia yang terlibat dalam ekspedisi tersebut.
“Dalam publikasi ilmiah yang sedang dipersiapkan, InsyaAllah periset BRIN yang lead,” kata Arif Satria, Selasa (25/11).
Menepis Kontroversi dan Menjamin Kredibilitas
Penemuan Rafflesia hasseltii ini merupakan kolaborasi antara The University of Oxford Botanic Garden and Arboretum dan Program RIIM Ekspedisi BRIN, yang juga melibatkan Universitas Bengkulu dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu.
Unggahan Oxford University yang hanya menyebutkan peneliti asing, Dr. Chris Thorogood, memicu sorotan tajam, termasuk kritik dari mantan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, yang menuntut pengakuan terhadap kontribusi peneliti nasional:
“Kepada @UniofOxford, para peneliti Indonesia kita – Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi – bukanlah NPC. Sebutkan juga nama mereka,” tulis Anies.
Kepastian BRIN: Pengakuan Internasional Mutlak
Arif Satria memastikan bahwa publikasi ilmiah yang akan diterbitkan di Oxford University akan menjadi rujukan bagi ilmuwan dunia dan akan menyertakan seluruh nama periset yang terlibat, baik dari dalam maupun luar negeri.
Langkah BRIN untuk memposisikan perisetnya sebagai Penulis Utama (Lead Author) bertujuan ganda: memberikan pengakuan penuh atas kontribusi intelektual peneliti nasional dan menjamin kedaulatan riset Indonesia dalam kemitraan internasional.



































