Indonesia Menggapai Tahta Halal Dunia: Dorongan Sains dan Inovasi dari IPB

Depok (08/12/2025) – Indonesia berdiri di persimpangan jalan, menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk menjadi pusat halal global. Inilah panggilan yang disuarakan lantang oleh Prof. Khaswar Syamsu, Guru Besar sekaligus Kepala Pusat Sains Halal IPB University.

Dengan pasar global yang sungguh masif—belanja konsumen Muslim telah menyentuh $2,43 triliun AS di tahun 2024 dan diprediksi melonjak hingga $3,36 triliun AS pada 2028—pertumbuhan industri halal tak terbendung. Namun, ironisnya, Indonesia belum mendominasi. Saat ini, negara kita hanya bertengger di peringkat ketiga dalam indikator ekonomi Islam global, dan bahkan terperosok ke peringkat keempat di sektor pangan halal.

Prof. Khaswar mengingatkan dengan tegas: populasi besar tidak sama dengan kepemimpinan industri.

“Kita berisiko hanya menjadi pasar dan konsumen produk halal terbesar di dunia, bukan produsen utamanya. Kunci untuk menghindari nasib ini adalah dukungan sains, inovasi, dan Sistem Jaminan Produk Halal yang kuat,” ujarnya.

Membangun Ekosistem Halal Berbasis Ilmu Pengetahuan

Visi ambisius ini menuntut penguatan ekosistem halal di berbagai lini, mulai dari:

  • Meningkatkan efisiensi proses produksi.

  • Riset mendalam untuk bahan alternatif halal.

  • Implementasi digitalisasi dan keterlacakan (traceability) produk.

  • Pengujian dan deteksi material non-halal yang akurat.

  • Kolaborasi RnD yang erat antara akademisi dan industri.

Pandangan ini diperkuat oleh Prof. Arif Satria, mantan Rektor IPB yang kini memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Prof. Arif mengakui adanya tantangan, terutama penurunan peringkat Global Innovation Index (GII) Indonesia di tahun 2025 yang disorot karena melemahnya input inovasi.

Gerak Maju Menuju Innovation-Driven Economy

Meskipun terjadi penurunan peringkat input, Prof. Arif melihat optimisme jika dibandingkan dengan tahun 2021. Indonesia menunjukkan sinyal kemajuan yang jelas:

  • Output inovasi terus membaik.

  • Belanja riset, baik pemerintah maupun swasta, meningkat.

  • Jumlah paten asal Indonesia naik tajam.

Capaian ini, menurut Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu, adalah bukti kesiapan Indonesia bertransformasi menuju fase innovation-driven economy.

Untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan fondasi riset yang kokoh, ditopang oleh infrastruktur, SDM yang kompeten, pendanaan berkelanjutan, dan yang terpenting, agenda riset nasional yang terintegrasi.

“Kami menyiapkan agenda riset nasional berbasis SDGs (Sustainable Development Goals), mencakup pangan, energi, kesehatan, hingga ekonomi berbasis pengetahuan,” kata Prof. Arif.

Sinergi strategis antara penguatan riset halal dan konsolidasi ekosistem inovasi nasional adalah fondasi tak terhindarkan. Melalui kombinasi kekuatan ini, Indonesia siap bertransformasi dari sekadar pasar raksasa menjadi produsen dan pemimpin halal global.

Komentar

komentar

BAGIKAN