Depok (01/04/2026) – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalan Margonda, Pemerintah Kota Depok kini dihadapkan pada teka-teki kebijakan baru: mengikuti instruksi Jakarta atau tetap pada kalkulasi lokal? Isunya adalah pergeseran jadwal Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Benturan Jadwal: Pusat vs Daerah
Pemerintah Pusat, melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, baru saja mengetuk palu: seluruh ASN wajib WFH setiap hari Jumat demi efisiensi energi global. Namun, Depok punya ceritanya sendiri. Selama ini, kota ini telah lebih dulu menerapkan WFH setiap hari Senin.
Wali Kota Depok, Supian Suri, menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru “berpindah ke lain hari”. Menurutnya, efektivitas harus menjadi kompas utama sebelum kebijakan diselaraskan.
“Nanti kita konsultasikan sama provinsi. Karena provinsi sendiri menerapkannya hari Kamis,” ungkap Supian saat meninjau Kelurahan Tugu, Cimanggis, Rabu (1/4/2026).
Senin: “Hari Keramat” Kemacetan Depok
Alasan Depok memilih Senin bukan tanpa dasar yang kuat. Berbeda dengan pusat yang mengejar efisiensi energi, Pemkot Depok lebih fokus pada manajemen kemacetan. Berdasarkan pengamatan lapangan, Senin adalah puncak mobilitas warga yang paling jenuh.
Dengan membiarkan ASN bekerja dari rumah di awal pekan, Pemkot mengklaim telah berhasil mengurangi beban jalanan secara signifikan. “Kemarin kita mempertimbangkan Senin lebih kepada mengurai kemacetan. Hari Senin itu paling padat,” jelas Supian.
Menimbang Fleksibilitas dan Kewenangan
Sikap Supian Suri mencerminkan prinsip otonomi yang hati-hati. Meskipun pusat telah menetapkan Jumat sebagai hari WFH nasional, Depok masih menimbang apakah instruksi tersebut bersifat harga mati atau masih memberikan ruang bagi daerah untuk berinovasi sesuai kondisi riil.
Ada tiga poin yang kini masuk dalam meja evaluasi Pemkot Depok:
-
Sinkronisasi: Bagaimana menyelaraskan jadwal dengan Pemerintah Pusat agar tidak terjadi hambatan birokrasi lintas instansi.
-
Harmonisasi Wilayah: Menyesuaikan dengan Pemprov Jawa Barat yang justru memilih hari Kamis.
-
Relevansi Lokal: Memastikan bahwa perubahan jadwal tidak akan membuat kemacetan hari Senin kembali “meledak”.
“Nanti kita evaluasi, apakah harus disesuaikan dengan pusat atau masih menjadi kewenangan daerah,” pungkasnya.
Bagi warga Depok, siapa pun yang bekerja dari rumah dan kapan pun harinya, harapan mereka tetap sama: pelayanan publik tidak melambat, dan kemacetan tidak kian parah. Kini, bola ada di tangan Pemkot untuk menentukan apakah Jumat akan menggantikan Senin, atau justru Depok akan tetap pada jalurnya sendiri.








































