Depok (03/12/2025) – CGV Cinemas Indonesia menyoroti dua tantangan krusial yang harus diatasi oleh industri film Indonesia jika ingin sukses menembus pasar Korea Selatan: akurasi terjemahan dan keterbukaan data pasar. Menurut Chief Marketing Officer CGV Cinemas Indonesia, Kim Sun-cheol, kedua faktor ini merupakan kunci untuk memaksimalkan potensi film Indonesia di Seoul.
Dalam lokakarya FPCI, Kim Sun-cheol menjelaskan bahwa karena Bahasa Indonesia kurang familiar dibandingkan bahasa Inggris atau Jepang di Korea, akurasi subtitle menjadi sangat vital.
“Ketika film Indonesia ingin memberikan suasana untuk membuat sesuatu yang emosional, bagaimana agar bisa menggunakan subtitle yang benar,” kata Kim.
Akurasi subtitle tidak hanya berfungsi sebagai penerjemah naratif, tetapi juga sebagai strategi pemasaran untuk mengenalkan dan memberikan nuansa emosional budaya Indonesia yang tepat kepada penonton Korea.
Kunci Pasar Kedua: Keterbukaan Data
Kim juga menyoroti perbedaan signifikan dalam keterbukaan data pasar antara kedua negara. Di Korea Selatan, data rinci mengenai jumlah penayangan dan penonton mudah diakses, memfasilitasi analisis pasar yang cepat.
“Di Indonesia, itu terblokir. Jadi, bagaimana kita bisa menganalisa data dan membuat keputusan adalah kunci lainnya,” tambahnya.
Tanpa data yang transparan, pembuat keputusan dan distributor akan kesulitan merumuskan strategi pemasaran dan produksi yang efektif.
Empat Pilar Daya Tarik Indonesia bagi Industri Korea
Kim Sun-cheol menguraikan empat alasan utama yang menjadikan Indonesia sebagai pasar sasaran utama bagi industri perfilman Korea Selatan, yang mencerminkan potensi konsumsi hiburan yang masif:
-
Populasi Muda: Indonesia adalah negara berpopulasi terbesar keempat di dunia ($286$ juta penduduk) dengan usia rata-rata yang relatif muda (sekitar $30$ tahun).
-
Penetrasi Digital Tinggi: Jumlah pengguna internet mencapai $230$ juta, menunjukkan tingkat penetrasi daring yang sangat tinggi.
-
Kekuatan Kelas Menengah: Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia melampaui gabungan kelas menengah Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, mengindikasikan lonjakan daya beli.
-
Implikasi: Peningkatan pendapatan ini mendorong kemampuan membeli layanan berbasis langganan seperti OTT, tiket bioskop, dan aktivitas hiburan (leisure) lainnya.
-
-
Basis Pengguna Daring Aktif: Indonesia memiliki basis pengguna daring yang luas dan sangat aktif, memperbesar potensi penyebaran dan promosi film Korea.
Film-film Indonesia sendiri sudah mulai menembus pasar Korsel, dengan beberapa judul seperti “Pangku”, “Rangga & Cinta”, “Esok Tanpa Ibu”, dan “Badarawuhi di Desa Penari” pernah ditayangkan di Busan International Film Festival.





































