Depok (07/04/2026) – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) resmi menginjak usia 80 tahun pada 4 April 2026. Menandai delapan dekade pengabdiannya, institusi yang menjadi penjaga gawang ruang siber Indonesia ini mengusung visi besar melalui tema “Kedaulatan Siber Memperkuat Ketahanan Nasional”.
Perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial bagi Indonesia untuk menegaskan kemandirian teknologi dan memperlakukan data sebagai aset strategis negara yang tidak dapat ditawar.
Evolusi dari Dinas Kode hingga Benteng Digital Negara
Lahir dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan, BSSN bermula dari pembentukan Dinas Kode pada 4 April 1946 oleh Roebiono Kertopati. Dalam rentang 80 tahun, institusi ini telah berevolusi dari unit sandi konvensional menjadi lembaga strategis yang mengintegrasikan keamanan informasi dan komunikasi negara di tengah badai ancaman siber global yang kian kompleks.
Sebagai pembina tunggal persandian nasional, BSSN memastikan seluruh protokol komunikasi rahasia negara berjalan secara terkoordinasi dan efektif guna melindungi kepentingan nasional di ruang digital.
Agenda Strategis: RUU Siber dan Akselerasi Tim Tanggap Insiden
Kepala BSSN, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi, menegaskan bahwa penguatan sistem siber kini telah menjadi sebuah keniscayaan bagi eksistensi bangsa. Dalam siaran persnya pada Senin (06/04/26), ia memaparkan sejumlah prioritas jangka pendek dan menengah, di antaranya:
-
Legalisasi dan Regulasi: Percepatan penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keamanan dan Ketahanan Siber.
-
Respon Cepat: Pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) secara masif di sektor infrastruktur informasi vital serta sektor privat.
-
Sinergi Pentahelix: Memperkuat kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media massa.
“BSSN hadir sebagai garda terdepan untuk memastikan perlindungan nasional berjalan secara terstruktur, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegas Nugroho Sulistyo Budi.
Apresiasi dan Literasi Publik
Menyadari bahwa keamanan siber adalah tanggung jawab kolektif, BSSN memberikan penghargaan kepada sejumlah mitra dan insan persandian, termasuk rekan media yang berperan aktif dalam meningkatkan literasi publik. Media dinilai sebagai katalisator penting dalam mengedukasi masyarakat agar lebih sadar akan risiko di ruang digital.
Rangkaian peringatan sewindu pengabdian ini juga diisi dengan kegiatan reflektif dan sosial, mulai dari ziarah ke makam bapak persandian Roebiono Kertopati, aksi donor darah, hingga forum koordinasi nasional untuk menyelaraskan peta jalan keamanan siber masa depan.
Seruan Kolaborasi Nasional
BSSN mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi menjadi penonton dalam isu keamanan digital. Ketangguhan ruang siber Indonesia hanya bisa dicapai jika setiap individu dan lembaga memiliki rasa tanggung jawab yang sama dalam menjaga kedaulatan informasi.
“Setiap langkah dan kebijakan yang kita ambil harus mencerminkan tanggung jawab besar kita dalam menjaga wajah kedaulatan siber nasional di mata dunia,” tutup Kepala BSSN.





































