Depok (18/10/2025) – Di masa 1980 hingga 1990-an, becak menjadi sahabat setia warga Depok. Kala itu, moda transportasi ini begitu vital—mengantar warga dari pasar ke rumah, dari gang kecil menuju jalan besar—di tengah keterbatasan kendaraan umum dan masih jarangnya kepemilikan kendaraan pribadi.
Kini, di tengah riuh kendaraan bermotor dan dominasi transportasi daring, becak memang mulai tersisih. Namun, di beberapa sudut kota, denyut hidupnya belum sepenuhnya padam. Masih ada yang setia menunggu rezeki di bawah rindang pohon, seperti Karyo, salah satu tukang becak yang mangkal di Jalan Pemuda, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas.
Pria asal Cirebon, Jawa Barat, itu telah menggantungkan hidupnya dari mengayuh pedal sejak awal tahun 1980-an.
“Saya ini orang Cirebon, merantau ke Depok dan langsung narik becak dari tahun 80-an, seingat saya,” tutur Karyo kepada berita.depok.go.id, sembari tersenyum di atas becak tuanya.
Bagi Karyo, menjadi tukang becak bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup untuk menafkahi keluarga. Ia masih memiliki tanggung jawab besar—tiga anak dan seorang istri yang menanti di kampung halaman.
“Sebelum ke Depok, di Cirebon juga narik becak. Hasilnya enggak banyak, tapi kalau bisa buat makan, sudah alhamdulillah,” ujarnya pelan.
Meski tak seramai dulu, di kawasan Jalan Pemuda masih ada saja pelanggan setia yang memanggilnya. Sebagian besar ibu-ibu dari pasar yang butuh bantuan mengangkut belanjaan, atau warga yang sekadar ingin berkeliling kawasan yang menyimpan banyak kenangan.
“Masih ada yang manggil, biasanya ibu-ibu dari pasar. Kadang juga cuma keliling-keliling aja,” kata Karyo.
Saat tim berita.depok.go.id menyusuri Jalan Pemuda dan gang di sekitarnya, pemandangan tukang becak memang kian langka. Mereka duduk diam di atas becaknya, menanti penumpang lama yang mungkin datang, atau sekadar menikmati hembusan angin sambil mengobrol dengan sesama pengayuh.
“Dulu tukang becak di sini banyak banget, tapi sekarang ya tinggal beberapa aja,” kenang Karyo.
Meski dianggap sebagai transportasi yang tertinggal zaman, becak tetap punya tempat istimewa di hati sebagian warga. Bagi mereka, becak bukan sekadar alat angkut, tapi juga penjaga nostalgia—pengingat masa kecil yang hangat.
Seperti kisah Sani, warga Depok yang mengenang becak sebagai bagian dari kenangan masa kecilnya.
“Waktu kecil, setiap ke rumah nenek di Pitara pasti naik becak. Rasanya belum ke Depok kalau belum naik becak,” ceritanya sambil tersenyum.
Ia mengaku sedih melihat becak yang kini nyaris hilang dari jalanan.
“Sekarang susah banget lihat becak. Dulu tukang becak kebanyakan bapak-bapak, mungkin anak-anaknya enggak mau nerusin karena zaman udah berubah,” ungkapnya.
Kisah Karyo dan para pengayuh lain di Depok adalah potret kecil dari perjalanan panjang becak—sebuah profesi yang perlahan tersingkir namun masih berjuang bertahan. Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka tetap menjadi saksi hidup tentang bagaimana waktu berubah, tapi semangat untuk mengayuh tak pernah benar-benar berhenti.
Pertanyaannya kini, sampai kapan suara rantai dan deru roda becak masih akan terdengar di jalanan Depok?





































