Depok (30/03/2026) – Dunia pendidikan di kawasan Sawangan, Depok, dikejutkan oleh terungkapnya aktivitas menyimpang seorang tenaga pendidik berinisial IK (35). Oknum guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kedaung tersebut diduga kuat menyebarkan jasa layanan mesum sesama jenis secara konvensional melalui selebaran kertas.
Kasus ini mencuat ke publik setelah sebuah video viral menunjukkan aksi heroik seorang ibu berinisial S yang melabrak terduga pelaku di kawasan Pamulang.
Kronologi Penemuan: Selebaran di Kedai Bakso
Insiden bermula saat putra dari Ibu S sedang menyantap bakso di wilayah Pamulang. Secara tiba-tiba, IK memberikan sebuah selebaran yang berisi daftar layanan jasa mesum lengkap dengan rincian tarif serta kategorinya. Temuan ini memicu kemarahan keluarga korban hingga berujung pada identifikasi latar belakang profesi pelaku.
IK diketahui merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris dan IPS, sekaligus memegang peran strategis sebagai operator sekolah di madrasah tempatnya mengabdi sejak tahun 2017.
Anomali Profil: Sosok Guru Luar Biasa
Pihak sekolah, melalui juru bicara Zarkasih, menyatakan keterkejutan yang mendalam atas perilaku IK di luar lingkungan institusi. Selama delapan tahun mengajar, IK dikenal sebagai pengajar dengan dedikasi tinggi dan kedisiplinan yang melampaui rata-rata.
“Pribadi beliau luar biasa, guru tipe pejuang. Pagi sudah siaga di sekolah dan pulang paling terakhir. Kami di lingkungan sekolah sama sekali tidak menaruh curiga karena performa kerjanya yang sangat baik,” ujar Zarkasih dalam keterangannya.
Pengakuan Mengejutkan: HIV dan Riwayat Sejak 2014
Dalam proses pemanggilan internal oleh pihak sekolah, IK bersikap kooperatif dan mengakui seluruh perbuatannya. Berdasarkan pengakuan pelaku, aktivitas penyimpangan seksual tersebut telah dilakukannya sejak tahun 2014—tiga tahun sebelum ia diterima mengajar di madrasah tersebut.
Fakta medis yang lebih memprihatinkan pun terungkap; IK mengakui telah mengidap HIV sejak tahun 2014. Terkait proses rekrutmennya di tahun 2017, pihak sekolah mengaku kesulitan menelusuri riwayat verifikasi latar belakang (background check) pelaku karena kepala sekolah yang saat itu menjabat telah wafat.
Motif Ekonomi dan Penyangkalan Keterlibatan Siswa
Kepada pihak sekolah, IK bersumpah bahwa aksi penyebaran selebaran tersebut baru pertama kali dilakukan dengan motif utama kesulitan ekonomi. Ia juga membantah keras telah melakukan tindakan asusila terhadap peserta didik di lingkungan sekolah.
“Dia bersumpah tidak berani melakukan hal itu kepada siswa-siswi. Namun, kami tetap menanggapi serius hal yang sifatnya di luar jangkauan kami ini,” pungkas Zarkasih.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi institusi pendidikan di Kota Depok untuk memperketat sistem pengawasan dan proses seleksi tenaga pendidik guna menjamin keamanan serta moralitas di lingkungan sekolah.








































