Depok (05/01/2026) – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia merespons cepat situasi kritis di Venezuela pasca-serangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) di Ibu Kota Caracas. Kemlu memastikan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela dalam keadaan aman, namun mengimbau untuk selalu waspada.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Mulachela, menyampaikan imbauan resmi dari Jakarta: “Pemerintah Indonesia mengimbau para WNI untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta terus menjalin komunikasi dengan KBRI Caracas,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Berdasarkan laporan terkini dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas, WNI dipastikan aman. KBRI akan terus memantau perkembangan dinamis di Venezuela menyusul operasi militer AS tersebut.
Puncak Ketegangan dan Penetapan Status Darurat
Ketegangan antara AS dan Venezuela mencapai puncaknya pada Sabtu pagi (3/1/2026) waktu setempat, ketika serangkaian ledakan mengguncang Caracas dan wilayah lainnya. Operasi tersebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian diterbangkan keluar negeri.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran ini melalui unggahan di Truth Social, mengklaim bahwa aksi tersebut merupakan kolaborasi antara militer dan penegak hukum AS.
Sebagai respons langsung terhadap agresi ini, Pemerintah Venezuela segera menetapkan status keadaan darurat nasional. Pemerintah Venezuela secara keras menolak dan mengecam agresi militer AS tersebut, menuduh Washington berupaya merebut sumber daya strategis negara, terutama minyak dan mineral, serta berambisi menghancurkan kemerdekaan politik Venezuela.
“Keadaan darurat diberlakukan untuk melindungi hak-hak penduduk, menjamin fungsi lembaga-lembaga republik, dan memulai transisi menuju perjuangan bersenjata,” bunyi pernyataan resmi Caracas, yang memperingatkan bahwa tindakan AS ini mengancam stabilitas kawasan Amerika Latin dan Karibia.





































