Gunung Lewotobi Laki-laki Tetap pada Status Level IV (AWAS)

Depok (02/12/2025) – Badan Geologi Kementerian ESDM mengukuhkan bahwa aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berada pada tingkat tertinggi, yaitu Level IV (AWAS). Meskipun erupsi terakhir tercatat pada 18 Oktober 2025, data instrumental terbaru menunjukkan bahwa potensi letusan masih sangat tinggi.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menekankan perlunya kewaspadaan berkelanjutan bagi warga sekitar.

Analisis Instrumental: Indikasi Suplai Magma Aktif

 

Pemantauan kegempaan dari 30 November hingga 1 Desember 2025 pukul 12.00 WITA menunjukkan adanya akumulasi tekanan dan pergerakan magma ke permukaan:

  • Gempa Frekuensi Rendah (Low Frequency) dan Tremor Non-Harmonik terekam dalam jumlah yang relatif tinggi. Hal ini secara spesifik mengindikasikan pergerakan magma menuju permukaan.

  • Gempa Vulkanik Dalam (Vulkanik Dalam) yang tercatat sebanyak sembilan kali menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung.

Selain kegempaan, data deformasi juga menguatkan indikasi bahaya:

  • Tiltmeter: Menunjukkan adanya akumulasi tekanan pada sumbu tangensial (sumbu X).

  • GNSS: Data menunjukkan fluktuasi pada komponen vertikal selama seminggu terakhir.

Pengamatan Visual dan Risiko Sekunder

 

Secara visual, meskipun gunung sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati hembusan asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas bervariasi (tipis hingga tebal) setinggi 50-200 meter dari puncak.

Rekomendasi dan Zona Bahaya

 

Badan Geologi menetapkan zona bahaya dan mitigasi risiko yang harus dipatuhi oleh masyarakat dan wisatawan:

  • Zona Eksklusif: Dilarang beraktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi.

  • Zona Sektoral: Dilarang beraktivitas dalam radius 7 km pada arah sektoral barat laut-timur laut.

  • Bahaya Lahar: Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau mewaspadai potensi banjir lahar saat terjadi hujan lebat, khususnya di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak, meliputi Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.

Warga juga diimbau untuk menggunakan masker jika terdampak hujan abu dan tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Selain itu, sebaran abu vulkanik juga dapat mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan.

Komentar

komentar

BAGIKAN