oleh Lolita Damayanti
Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (BELHPI) DPD PKS Kota Depok
Pelopor Pegiat Lingkungan Hidup
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 seharusnya tidak hanya menjadi momentum seremonial membersihkan lingkungan. Ia perlu menjadi ruang refleksi yang lebih mendalam: mengapa sampah terus menumpuk, terutama sampah makanan?
Pada saat yang sama, dunia—termasuk Indonesia—menghadapi krisis kesehatan metabolik. Obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir. Pola makan berlebih, konsumsi ultra-processed food, serta gaya hidup sedentari (kurang gerak) menjadi faktor dominan.
Menariknya, dua krisis ini—kesehatan dan sampah—sering dibahas secara terpisah. Padahal secara sistemik, keduanya memiliki akar yang sama: pola konsumsi yang berlebihan dan tidak terkendali.
Tubuh Manusia dan Ritme Metabolik Alami
Secara biologis, tubuh manusia dirancang untuk mengalami fase makan dan fase tidak makan. Dalam kondisi puasa, kadar insulin menurun, tubuh mulai membakar cadangan lemak, dan terjadi aktivasi proses pembersihan sel yang dikenal sebagai autophagy. Mekanisme ini diteliti secara mendalam oleh ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi yang kemudian menerima Nobel Prize pada 2016. biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme adaptif terhadap fase makan dan fase puasa. Dalam keadaan puasa, tubuh memasuki kondisi metabolik yang berbeda: kadar insulin menurun, pembakaran lemak meningkat, dan terjadi aktivasi autophagy—proses pembersihan sel dari komponen rusak (Ohsumi, 2014). Penemuan mekanisme ini bahkan mengantarkan ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi memperoleh Nobel Prize pada 2016.
Penelitian modern mengenai intermittent fasting menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan berkorelasi dengan perbaikan sensitivitas insulin, penurunan inflamasi, dan perbaikan profil lipid ketika seseorang menerapkan pembatasan waktu makan secara terkontrol.(Patterson & Sears, 2017; de Cabo & Mattson, 2019).
Artinya, secara fisiologis tubuh manusia mampu beradaptasi dengan pola makan yang tidak selalu 3x sehari, selama kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi. Yang lebih menentukan bukan sekedar frekuensi makan, melainkan keseimbangan energi dan kualitas metabolik.
Artinya, secara ilmiah tubuh manusia mampu beradaptasi dengan jeda konsumsi. Yang lebih penting bukan sekadar frekuensi makan, tetapi keseimbangan energi dan kualitas nutrisi.
Dalam konteks ini, puasa—baik yang bersifat religius maupun pengaturan makan berbasis kesehatan—merepresentasikan disiplin biologis yang selaras dengan ritme alami tubuh.
Puasa Senin–Kamis dan Ramadhan dalam Perspektif Sains
Puasa Senin–Kamis dan Ramadhan adalah praktik spiritual yang secara tidak langsung menerapkan prinsip time-restricted feeding. Studi menunjukkan bahwa pola puasa periodik dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki biomarker metabolik pada individu dengan kelebihan berat badan (Cho et al., 2019).
Selain itu, ulasan komprehensif oleh de Cabo dan Mattson (2019) dalam New England Journal of Medicine menyimpulkan bahwa puasa intermiten memicu “metabolic switching”, yaitu peralihan dari penggunaan glukosa ke keton sebagai sumber energi, yang berdampak positif pada kesehatan kardiometabolik.
Dengan demikian, disiplin puasa bukan sekadar praktik ibadah, melainkan bentuk pengendalian konsumsi yang selaras dengan mekanisme biologis tubuh.
Tentu, praktik puasa dan pengaturan pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Konsumsi Berlebih: Akar Penyakit dan Sampah Makanan
Masalah kesehatan modern tidak semata karena kurangnya akses medis, melainkan karena pola konsumsi berlebih yang sistemik. Pola makan tinggi kalori dan frekuensi konsumsi tanpa jeda meningkatkan risiko penyakit tidak menular (Afshin et al., 2019).
Menariknya, pola konsumsi berlebih ini juga tercermin pada tingginya sampah makanan. Organisasi seperti Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan bahwa sekitar sepertiga makanan yang diproduksi secara global terbuang (FAO, 2011). Di banyak negara berkembang, sampah organik mendominasi komposisi sampah rumah tangga.
Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang berdampak signifikan terhadap perubahan iklim. Laporan World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, malnutrisi, dan krisis kesehatan global (WHO, 2021).
Dengan demikian, konsumsi berlebih tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga kerusakan lingkungan dan menekan ekosistem.
Keadilan Ekologis Dimulai dari Hulu
Jika konsumsi berlebih menjadi akar krisis, maka solusi paling mendasar bukan hanya pada sistem kuratif, tetapi pada transformasi perilaku hulu.
Disiplin puasa mengajarkan pembatasan, kesadaran, dan pengendalian diri—nilai yang sangat relevan dalam konteks keberlanjutan. Mengurangi frekuensi makan berlebihan berarti: Mengurangi beban metabolik tubuh, Mengurangi produksi dan pemborosan makanan, Mengurangi tekanan terhadap sistem lingkungan.
Kelompok rentan sering menjadi pihak yang paling terdampak krisis iklim dan degradasi lingkungan, padahal kontribusi konsumsi mereka relatif kecil. Sementara itu, gaya hidup konsumtif kelas menengah perkotaan—dengan food waste tinggi—justru memperbesar jejak ekologis.
HPSN seharusnya tidak berhenti pada pengelolaan sampah di hilir. Pengangkutan, pemilahan, dan daur ulang memang penting, tetapi akar persoalan ada di hulu: pola konsumsi.
Mengurangi konsumsi berlebihan berarti:
- Mengurangi beban metabolik tubuh
- Mengurangi pemborosan makanan
- Mengurangi emisi gas rumah kaca
- Mengurangi tekanan terhadap lahan dan sumber air
Dalam perspektif ini, kesehatan tubuh dan kesehatan bumi berada dalam satu sistem yang saling terhubung.
Momentum HPSN 2026: Dari Gerakan Kebersihan ke Transformasi Peradaban
HPSN 2026 perlu dimaknai sebagai momentum perubahan paradigma. Sampah makanan bukan sekadar masalah teknis pengelolaan kota, melainkan cerminan budaya konsumsi.
Jika pola makan kita berlebihan, maka sistem produksi akan mengikuti. Jika sistem produksi berlebihan, maka eksploitasi sumber daya meningkat. Jika eksploitasi meningkat, maka krisis ekologis memburuk.
Sebaliknya, jika individu mulai menerapkan disiplin konsumsi—baik melalui pengaturan porsi, perencanaan belanja, maupun praktik puasa—maka dampaknya bersifat sistemik.
Transformasi peradaban selalu dimulai dari perubahan perilaku kolektif. Kesadaran bahwa “cukup” lebih bernilai daripada “berlebih” adalah fondasi keberlanjutan.
Puasa, dalam konteks ini, dapat dibaca sebagai simbol keseimbangan. Ia mengajarkan bahwa menahan diri bukan kelemahan, melainkan kekuatan.
Penutup
Krisis kesehatan dan krisis sampah makanan bukan dua persoalan yang berdiri sendiri.Keduanya berakar pada pola konsumsi yang tidak terkendali.
Sain modern menunjukan bahwa jeda makan dan pembatasan konsumsi memiliki manfaat biologis. Data global menunjukkan bahwa pemborosan makanan memperburuk tekanan ekologis.
maka HPSN 2026 perlu menjadi lebih dari sekedar aksi bersih -bersih. ia harus menjadi momentum refleksi konsumsi.
tubuh nmanusia membutuhkan keseimbangan. Bumi pun demikian. Pada akhirnya kesehatan tubuh dan keadilan ekologis berangkat dari prinsip yang sama yaitu keseimbangan.









































