Jejak Sejarah Cinere: Dari ‘Negara Kecil’ Milik Serdadu Prancis hingga Menjadi Hunian Elit Modern

Depok (10/04/2026) – Kawasan Cinere kini dikenal sebagai salah satu titik hunian paling prestisius di perbatasan Depok dan Jakarta Selatan. Namun, mengutip laporan sejarah dari Kompas, di balik deretan perumahan elit dan fasilitas modernnya, Cinere menyimpan narasi panjang yang bermula dari statusnya sebagai “negara kecil” milik seorang serdadu asal Prancis pada abad ke-17.

Warisan Lahan Partikelir Saint Martin

Nama Cinere diyakini berasal dari kata Ci Kanyere atau Tjinere. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Kompas, kawasan ini dulunya merupakan lahan partikelir milik Isaac de l’Ostale de Saint Martin, seorang perwira tinggi VOC kelahiran Prancis.

Atas jasanya menangani pemberontakan Kapten Jonker di Banten pada tahun 1689, Pemerintah Hindia Belanda menghadiahi Saint Martin hamparan tanah luas tersebut. Sebagai pemilik lahan partikelir, Saint Martin memiliki kekuasaan otonom yang hampir mutlak—layaknya pemimpin sebuah negara kecil. Ia berhak mengangkat kepala kampung, memungut pajak, hingga mempekerjakan rakyat di wilayah kekuasaannya sendiri.

Pada masa kolonial, Cinere memegang peran strategis sebagai bagian dari sabuk pertahanan Batavia serta jalur penghubung penting menuju Buitenzorg (Bogor). Status tanah partikelir ini bertahan sangat lama hingga abad ke-20, dan tercatat baru benar-benar diambil alih oleh negara pada tahun 1952.

Gelombang Relokasi Senayan dan Memori “Si Doel”

Transformasi demografi Cinere secara besar-besaran terjadi pada dekade 1960-an. Sebagaimana dilansir Kompas, pembangunan kawasan Gelora Bung Karno (GBK) memaksa ribuan warga Betawi dari Senayan, Petunduhan, hingga Bendungan Udik untuk pindah. Salah satu wilayah tujuan relokasi utama adalah Cinere.

Peristiwa sejarah ini bahkan menjadi latar belakang sosiologis yang kuat dalam serial legendaris “Si Doel Anak Sekolahan”. Karakter Babeh Sabeni dikisahkan sebagai bagian dari warga terdampak relokasi yang memilih menetap di sekitar Cinere dan mengoperasikan oplet jurusan Cinere–Gandul.

Jejak memori kultur pop ini juga menyisakan lokasi ikonik seperti “Danau Bengong”—tempat tokoh Mandra kerap merenung—yang hingga kini masih sering dikaitkan dengan lanskap Cinere di masa lalu.

Metamorfosis Menjadi Hunian Modern

Memasuki era 1980 hingga 1990-an, wajah Cinere yang dulunya berupa rawa dan perkebunan peninggalan kolonial mulai berganti rupa. Pembangunan perumahan-perumahan elit mulai masif, mengubah wilayah ini menjadi pusat hunian modern.

Secara administratif, Cinere kini menjadi bagian dari Kota Depok, meskipun secara geografis lokasinya lebih menjorok ke wilayah Jakarta Selatan. Kehadiran infrastruktur pendukung yang pesat menjadikannya magnet bagi kelas menengah atas:

  • Infrastruktur Strategis: Akses jalan tol, sekolah, dan rumah sakit internasional.

  • Gaya Hidup Modern: Kehadiran pusat perbelanjaan hingga lapangan golf.

Transformasi dari lahan hadiah perang menjadi pusat gaya hidup modern ini menjadikan Cinere salah satu kawasan dengan dinamika sosial dan sejarah paling unik di pinggiran Jakarta.

Komentar

komentar

BAGIKAN