Krisis Geopolitik Mendidih: AS Sita Kapal Minyak Rusia, Moskow Ancam Balas Militer; ‘Pesawat Kiamat’ AS Siaga

Depok (08/01/2026) – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia melonjak tajam ke tingkat yang mengkhawatirkan menyusul penyitaan paksa kapal tanker minyak Rusia, Marinera, oleh pasukan khusus AS pada Rabu (7/1/2026) WIB. Kejadian ini memicu respons keras dari Moskow, termasuk seruan untuk aksi militer balasan yang dapat menyeret dunia ke dalam Perang Dunia III.

Di tengah eskalasi tersebut, perhatian publik tertuju pada pergerakan mendadak Boeing E-4B Nightwatch, pesawat komando darurat Presiden AS—dikenal sebagai “Pesawat Kiamat”—yang terbang dari markasnya di Nebraska menuju Washington D.C.

Pergerakan Pesawat Kiamat dan Spekulasi Kesiapsiagaan

Pesawat E-4B Nightwatch berfungsi sebagai pos komando udara yang dirancang untuk melindungi pejabat tinggi AS dan mengoordinasikan aksi militer selama krisis, bahkan mampu bertahan dari serangan nuklir.

Menurut data pelacakan penerbangan, E-4B lepas landas dari Omaha, Nebraska, dan terbang selama hampir tiga jam menuju Camp Springs dekat Washington, D.C. Meskipun pergerakan ini bisa jadi hanya latihan rutin, timing penerbangan yang bertepatan dengan krisis penyitaan kapal tanker memicu spekulasi mengenai peningkatan kesiapan nasional untuk menghadapi keadaan darurat.

Seruan Balasan Militer Rusia

Penyitaan kapal Marinera—yang sebelumnya berbendera Guyana dan berganti nama/bendera setelah diduga melanggar sanksi AS terkait minyak Iran/Venezuela—membuat politisi Rusia berang.

Aleksey Zhuravlyov, wakil kepala pertama komite pertahanan Duma Negara Rusia, mendesak Kremlin untuk membalas dengan aksi militer langsung. Zhuravlyov menyamakan penyitaan kapal berbendera Rusia tersebut dengan serangan terhadap wilayah Rusia itu sendiri.

“Kita perlu memberikan respons militer: serang dengan torpedo atau tenggelamkan beberapa kapal Amerika,” seru Zhuravlyov. Ia bahkan mengancam bahwa doktrin militer Rusia membayangkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan semacam itu, terutama karena ada laporan kapal selam dan militer Rusia berada di dekat lokasi penyitaan.

Kementerian Transportasi Rusia juga mengecam tindakan tersebut, yang dinilai sebagai “pembajakan” dan melanggar hukum internasional yang melarang penggunaan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar di yurisdiksi negara lain.

Inggris Terlibat: Risiko Pasal 5 NATO

Operasi penyitaan kapal Marinera ini didukung secara operasional oleh Inggris, yang dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Pasukan Inggris, dengan dukungan dari kapal RFA Tideforce dan pengawasan udara RAF, membantu aset militer AS mencegat kapal tersebut di celah Inggris-Islandia-Greenland.

Dukungan Inggris ini memperburuk situasi, mengingat setiap serangan balasan Rusia terhadap kapal-kapal AS atau Inggris dapat menyeret seluruh aliansi militer Barat ke dalam konflik global. Pasal 5 NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota aliansi dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota, yang meningkatkan risiko eskalasi konflik menjadi Perang Dunia III.

Komentar

komentar

BAGIKAN