Kudeta di Karibia: Pakar Soroti Dampak Serangan AS ke Venezuela bagi Stabilitas Ekonomi dan Keamanan Indonesia

Depok (05/01/2026) – Serangan mendadak Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) dini hari mengundang perhatian serius dari kalangan akademisi internasional. Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai insiden ini bukan sekadar konflik eksternal, melainkan cerminan kerapuhan internal yang luar biasa.

Rezasyah terkejut dengan tidak adanya perlawanan signifikan dari aparatur negara Venezuela. Ia berpendapat bahwa penangkapan seorang presiden dengan pengamanan berlapis tanpa perlawanan berarti mengindikasikan bahwa “mata dan telinga aparatur negara telah dibutakan dan ditumpulkan,” di mana lingkaran kekuasaan terdekat membiarkan atau bahkan “menikmati kejatuhan tersebut.”

“Ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan selalu musuh di luar, melainkan keraguan di dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri,” kata Rezasyah, Senin (5/1/2025), menekankan bahwa kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi dunia internasional.

Gelombang Dampak Ekonomi Global ke Indonesia

Analisis Rezasyah menyoroti potensi konsekuensi ekonomi dari instabilitas di Venezuela, sebagai salah satu produsen minyak utama. Dampaknya diperkirakan akan terasa langsung di Indonesia:

  1. Harga BBM dan Defisit APBN: Serangan ini dipastikan menaikkan harga minyak dunia (sesuai hukum demand and supply). Hal ini akan memengaruhi harga minyak di Indonesia dan berpotensi melebarkan defisit APBN. Rezasyah memperingatkan bahwa jika pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM, risiko instabilitas politik akan meningkat.

  2. Pelemahan Rupiah: Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diprediksi akan mengalami penurunan signifikan, diperkirakan mencapai kisaran $17.000$ hingga $18.000$ per Dolar.

Ancaman Keamanan Regional di Indo-Pasifik

Selain dampak ekonomi, Rezasyah juga menyuarakan kekhawatiran mengenai implikasi pertahanan dan keamanan nasional Indonesia. Ia menyebut bahwa AS berpotensi mengulangi kebijakan serangan mendadak serupa di Kawasan Indo-Pasifik terhadap negara-negara yang memiliki perbedaan pandangan dalam bidang ekonomi dan energi.

Mengingat AS memiliki banyak pangkalan militer di Indo-Pasifik, termasuk Asia Tenggara, Indonesia didesak untuk meningkatkan kewaspadaan. “RI hendaknya menyikapi keadaan ini dengan sangat baik. Mengawasi perbatasan darat, laut, dan udara. Agar tidak diganggu oleh berbagai aksi yang mengganggu pertahanan dan keamanan nasional,” imbuhnya.

Latar Belakang Operasi

Serangan AS, yang dituduh melanggar hukum AS dan internasional oleh pakar hukum, merupakan puncak tekanan administrasi Trump terhadap Maduro, yang dituduh sebagai pemimpin tidak sah dan mendukung kartel narkoba. Operasi yang didahului penyerangan pasukan AS ini berakhir dengan ditangkapnya Maduro dan istrinya, Cilia Flores, untuk kemudian dibawa ke AS.

Komentar

komentar

BAGIKAN