Menjinakkan “Gunung” Sampah Cipayung: Pemkot Depok Jadikan Ember Biru Senjata Pamungkas di Hulu

Depok (06/04/2026) – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung yang kian kritis dengan ketinggian tumpukan sampah melampaui 30 meter, memaksa Pemerintah Kota Depok melakukan intervensi radikal. Melalui Program Ember Biru, Pemkot kini memindahkan medan pertempuran pengelolaan sampah dari hilir (TPA) langsung ke sumbernya: dapur rumah tangga.

Wali Kota Depok, Supian Suri, menegaskan bahwa ketergantungan pada pembuangan akhir sudah tidak lagi relevan. Strategi keberlanjutan kota kini bertumpu pada kesadaran warga dalam memutus rantai sampah organik sebelum mencapai truk pengangkut.

Anatomi Sampah Depok: Peluang di Balik 600 Ton Sisa Organik

Berdasarkan data statistik perkotaan, Kota Depok mengirimkan sekitar 1.200 ton sampah ke TPA setiap harinya. Namun, angka ini menyimpan potensi reduksi yang masif jika dikelola secara cerdas.

“Lebih dari 50 persen, atau sekitar 600 ton dari total sampah harian, merupakan kategori organik seperti sisa makanan dan sayuran. Jika volume ini berhasil diinterseptasi sejak di rumah, beban TPA Cipayung akan berkurang secara drastis,” papar Supian Suri dalam agenda silaturahmi di Kelurahan Duren Seribu, Senin (06/04/26).

Pilot Project Duren Seribu: Integrasi Ember Biru dan Budidaya Maggot

Kelurahan Duren Seribu (Duser) kini menjadi laboratorium sosial bagi keberhasilan program ini. Masyarakat setempat mulai mengadopsi gaya hidup memilah melalui media Ember Biru, yang secara teknis memisahkan limbah basah dan kering.

Capaian Strategis Program di Duren Seribu:

  • Partisipasi Publik: Respons warga dinilai sangat positif dan mulai terbentuk habituasi pemilahan mandiri.

  • Ekosistem Sirkular: Sampah organik yang terkumpul kini tidak lagi menjadi beban, melainkan aset. Limbah tersebut dialihkan untuk budidaya maggot, yang menghasilkan pakan ternak bernilai tinggi.

  • Target Berikutnya: Pemkot sedang mematangkan strategi agar sampah anorganik (plastik) juga memiliki nilai ekonomi yang stabil bagi warga.

Replika Solusi untuk Skala Kota

Meski menunjukkan hasil impresif, Supian Suri menyatakan bahwa evaluasi mendalam tetap dilakukan, terutama terkait tata kelola sampah anorganik agar terserap oleh pasar industri daur ulang. Jika efektivitas di Duren Seribu terbukti konsisten, Program Ember Biru akan segera direplikasi secara massal ke seluruh kelurahan di Kota Depok.

“Keberhasilan di Duser akan menjadi cetak biru (blueprint) bagi wilayah lain. Kita tidak hanya bicara soal kebersihan, tapi soal menyelamatkan masa depan lingkungan kota kita,” pungkasnya.

Langkah ini menandai pergeseran paradigma Pemkot Depok dalam memandang sampah: bukan lagi sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan material yang harus dikelola secara terintegrasi sejak dari genggaman tangan pertama.

Komentar

komentar

BAGIKAN