Menyingkap Situs Purba Nganjuk: Peneliti Targetkan Gali Seluruh Ekosistem Zaman Stegodon di Lereng Gunung Pandan

5

Depok (28/11/2025) – Tim Peneliti Museum Geologi memperluas fokus riset mereka di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah berhasil merekonstruksi fosil gajah purba ** Stegodon trigonocephalus ** yang cukup lengkap, penelitian kini diarahkan untuk menggali sisa-sisa kehidupan masa lalu secara lebih holistik di kawasan Hutan Triktik, lereng Gunung Pandan.

Kepala Badan Geologi kala itu, Muhammad Wafid, mengonfirmasi bahwa penemuan situs fosil lengkap ini merupakan hasil kerja bertahap. Survei lapangan dimulai sejak 2023 (setelah permintaan Pemkab Nganjuk), diikuti dengan identifikasi lokasi pada 2024, hingga ekskavasi yang berhasil pada 2025.

Konteks Geologi dan Kekayaan Habitat Jawa

 

Situs penemuan ini memiliki lingkungan yang menarik dan penting untuk diteliti. Secara morfologi, lokasi tersebut berada di perbukitan yang masuk dalam Zona Kendeng, dengan litologi didominasi oleh napal dan clay yang telah terlipat.

Wafid menegaskan bahwa penemuan ini menggarisbawahi kekayaan lingkungan Jawa di masa purba:

“Kekayaan lingkungan di Jawa ini memang saat itu jadi habitat mungkin binatang-binatang termasuk Stegodon trigonocephalus yang merupakan bagian dari habitat yang ada di Jawa itu saya kira sangat kaya.”

Kawasan ini, termasuk sekitar aliran Sungai Bengawan Solo, merupakan koridor penting bagi habitat satwa purba. Fosil yang ditemukan di wilayah Jawa sendiri, khususnya di muara Bengawan Solo, telah mencapai ribuan spesimen, menunjukkan Jawa sebagai pusat migrasi dan kehidupan purba.

Potensi Pengembangan Riset dan Migrasi Satwa

 

Meskipun sekitar 70% fosil gajah purba telah berhasil diekskavasi, penelitian tidak berhenti. Tim menduga kuat masih ada fosil lain di sekitar lokasi.

“Masih kita cari terus, masih bisa berkembang, karena kalau itu satu lokasi ada habitat mestinya ada juga beberapa yang kita temukan nanti,” ungkap Wafid.

Terkait asal-usul, Wafid menjelaskan bahwa habitat di Pulau Jawa dulunya merupakan bagian dari Dataran Sunda. Kondisi ini memungkinkan migrasi besar-besaran berbagai jenis satwa, termasuk jenis gajah purba yang berbeda (seperti Gajah Blora dan Stegodon trigonocephalus Nganjuk), yang mencari makan atau membentuk habitat baru di wilayah tersebut.

Komentar

komentar

BAGIKAN