Oase Nusantara di Beijing: Kehangatan Ramadhan dan Diplomasi Rasa di Balik Tembok KBRI

Depok (16/03/2026) – Bagi diaspora Indonesia di Negeri Tirai Bambu, gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing di Jalan Dongzhimenwai bukan sekadar kantor diplomatik. Selama Ramadhan 1447 Hijriah, kompleks ini menjelma menjadi oase yang menawarkan kerinduan akan rumah: aroma soto Bandung, gurihnya nasi uduk, hingga renyahnya bakwan Malang.

Kegiatan buka puasa bersama yang digelar rutin sejak 24 Februari hingga 19 Maret 2026 ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh 40 hingga 70 WNI setiap harinya. Di sini, bahasa Indonesia kembali riuh terdengar, mengalahkan hiruk pikuk bahasa Mandarin di luar gerbang.

Jembatan Budaya di Meja Kerja

Bagi Irham Tanjung Fadilah, seorang perantau asal Medan yang bekerja di China National Petroleum Company, Ramadhan di Beijing adalah pengalaman perdana yang penuh pembelajaran. Sebagai satu-satunya staf Muslim di perusahaannya, Irham berperan sebagai “duta kecil” yang menjelaskan konsep puasa kepada rekan kerja ekspatriat dan lokal.

“Saya jelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga baik untuk detoksifikasi tubuh. Mereka terkejut namun sangat menghargai,” ujar Irham, Jumat (13/3/2026).

Toleransi yang ia temukan di kantor pun sangat menyentuh. Rekan-rekannya sengaja tidak berisik atau keluar ruangan saat ia menunaikan shalat di ruang rapat. Baginya, berbuka di KBRI adalah penawar rindu akan masakan rumah sekaligus tempat bersosialisasi dengan sesama warga Indonesia.

Tarawih dan Fleksibilitas Akademis

Nuansa berbeda dirasakan oleh Malikah Kautsar Ilmi, mahasiswi pascasarjana di Beijing Normal University. Memasuki tahun ketiganya berpuasa di Beijing, Malikah lebih memilih melaksanakan tarawih di KBRI karena ritme shalatnya yang dirasa lebih pas bagi diaspora.

“Di masjid lokal, shalat tarawih biasanya berlangsung sangat cepat dengan bacaan surat yang diulang-ulang. Di KBRI, kami melaksanakan delapan rakaat dengan variasi tilawah yang lebih beragam,” jelas Sekretaris Lingkar Pengajian Beijing tersebut.

Di ranah akademis, Malikah juga menemukan wajah China yang ramah terhadap Muslim. Dosen pembimbingnya bahkan secara khusus memilih restoran halal saat acara makan bersama.

“Meskipun China negara komunis, keberadaan suku Hui sebagai etnis Muslim asli membuat masyarakat di sini cukup akrab dengan tradisi Islam,” tambahnya.

Menyongsong Idul Fitri di Jantung Beijing

Sebagai penutup bulan suci, KBRI Beijing telah menyiapkan rangkaian perayaan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026. Shalat Id akan digelar di lapangan KBRI pada pukul 08.45 waktu setempat, yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi open house oleh Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun.

Bagi Malikah, Lebaran tahun ini terasa spesial karena menjadi tahun terakhirnya sebagai mahasiswa. Ia telah bergabung sebagai relawan persiapan Shalat Id dan bersiap mengenakan baju baru untuk merayakan kemenangan.

Di tengah dinginnya cuaca Beijing, hangatnya kekeluargaan di KBRI memastikan bahwa meski raga berada ribuan mil dari tanah air, semangat Nusantara tetap menyala dalam sanubari setiap diaspora.

Komentar

komentar

BAGIKAN