Depok (14/03/2026) – Eskalasi perang antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel yang pecah sejak Februari 2026 kini memasuki babak baru. Dua kekuatan besar dunia, Rusia dan China, dilaporkan telah melakukan intervensi strategis untuk menyokong pertahanan dan kemampuan ofensif Teheran melalui bantuan logistik, intelijen tingkat tinggi, hingga alih teknologi persenjataan mutakhir.
Rusia: Jembatan Logistik dan “Mata” di Langit
Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka memulai misi kemanusiaan dengan menginstruksikan Kementerian Situasi Darurat untuk mengirimkan 13 ton bantuan medis. Bantuan ini disalurkan melalui Azerbaijan sebelum diserahkan secara resmi kepada pemerintah Iran di Teheran.
Namun, di balik misi kemanusiaan tersebut, kerja sama intelijen menjadi sorotan utama. Pejabat AS mengungkapkan bahwa Rusia diduga berbagi data intelijen sensitif, termasuk lokasi presisi kapal perang dan armada udara AS di Timur Tengah.
Kecanggihan satelit pengintai Rusia, Kanopus-V (yang di Iran dioperasikan dengan nama Khayyam), menjadi tulang punggung doktrin serangan presisi Teheran. Sistem ini memungkinkan Iran mendeteksi aset AS dan Israel dengan akurasi yang sebelumnya tidak terjangkau oleh teknologi domestik mereka. Meski demikian, dalam komunikasinya dengan Presiden AS Donald Trump, Putin membantah adanya berbagi intelijen dan tetap mendorong solusi diplomatik.
China: Arsitek Perang Elektronik dan “Pembunuh Kapal Induk”
Dukungan Beijing terfokus pada transformasi infrastruktur militer digital Iran. China dilaporkan telah memindahkan sistem navigasi militer Iran dari GPS milik AS ke Konstelasi BeiDou-3 yang terenkripsi. Langkah ini secara drastis mempercepat waktu deteksi dan penargetan bagi pasukan Teheran.
Selain sistem navigasi, China memperkuat pertahanan udara Iran dengan:
-
Radar Anti-Siluman YLC-8B: Menggunakan frekuensi rendah untuk membedah lapisan penyerap radar pada pesawat siluman canggih AS seperti B-21 Raider dan F-35C.
-
Rudal Supersonik CM-302: Iran dikabarkan segera mengakuisisi 50 unit rudal varian YJ-12 ini. Dengan kecepatan Mach 3 dan kemampuan meluncur rendah di atas permukaan laut, rudal yang dijuluki “pembunuh kapal induk” ini menjadi ancaman langsung bagi USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.
Legitimasi Politik bagi Pemimpin Baru
Dukungan China tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politik. Beijing secara resmi mengakui dan mendukung terpilihnya Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa penunjukan tersebut adalah kedaulatan penuh Iran yang harus dihormati dunia internasional.
“China menolak segala campur tangan urusan dalam negeri lain dengan dalih apa pun. Keamanan dan wilayah Iran harus dihormati,” tegas Guo sebagaimana dikutip AFP.
Dinamika Geopolitik Terkini
Keterlibatan aktif Rusia dan China di pihak Iran menandai pergeseran kekuatan yang signifikan di Timur Tengah. Kehadiran teknologi anti-siluman dan rudal anti-kapal supersonik di tangan Teheran berpotensi menetralisir keunggulan teknologi yang selama ini dipegang oleh aliansi AS-Israel, sekaligus memaksa Washington untuk menghitung ulang strategi militer mereka di kawasan Teluk.





































