Depok (28/03/2026) – Peta politik Kota Depok menunjukkan sinyal pencairan yang signifikan di penghujung Maret 2026. Momentum Idulfitri 1447 Hijriah dimanfaatkan jajaran elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menggelar silaturahmi ke kediaman Ketua DPC Partai Gerindra Kota Depok, Pradi Supriatna, di kawasan Kukusan, Beji, Jumat (27/3/2026).
Pertemuan ini dinilai lebih dari sekadar kunjungan Lebaran biasa. Kehadiran tokoh-tokoh kunci PKS seperti Ketua DPD Heridianto, Ketua DPRD Ade Supriyatna, hingga fungsionaris partai Ade Firmansyah dan Khairullah, seolah menandai berakhirnya residu kompetisi panas yang sempat membelah kedua partai pada Pilkada 2020 dan 2024 lalu.
Menghapus Sekat Oposisi di Tingkat Daerah
Dalam diskusi yang berlangsung cair, Ketua DPRD Kota Depok, Ade Supriyatna, menegaskan bahwa secara konstitusional tidak ada istilah oposisi dalam sistem pemerintahan daerah berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014. Menurutnya, eksekutif dan legislatif adalah satu kesatuan penyelenggara negara.
“Sekat-sekat politik pasca-kontestasi harus disudahi. Kita semua kembali menjadi warga Depok dengan tanggung jawab yang sama. Fokus kami sekarang adalah memastikan pelayanan publik berjalan optimal dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujar Ade Supriyatna. Ia juga menambahkan bahwa sikap PKS sejak awal telah selaras dengan pemerintah demi kepentingan publik.
Pradi Supriatna sebagai “Bapak Bangsa” Orang Depok
Apresiasi tinggi diberikan oleh jajaran PKS kepada Pradi Supriatna. Heridianto menyebut Pradi sebagai tokoh senior yang memberikan wejangan berharga mengenai “jiwa kenegarawanan”. Bahkan, dalam suasana penuh keakraban tersebut, muncul sebutan bagi Pradi sebagai salah satu “Guru Bangsa” atau tokoh pemersatu di Kota Depok.
Khairullah, salah satu pengurus PKS, mengungkapkan peran krusial Pradi dalam menjaga nilai kebersamaan. Ia mencatat momen bersejarah di mana Pradi Supriatna turut menjembatani silaturahmi antara Wali Kota terpilih Supian Suri dengan KH. Mohammad Idris.
“Bang Pradi berperan penting sebagai pemersatu. Momentum di mana Pak Supian Suri bersama Bang Pradi bersilaturahmi ke kediaman KH. Mohammad Idris adalah bukti bahwa persaudaraan adalah karakter asli masyarakat Depok,” ungkap Khairullah.
Sinergi “Inline” dari Pusat hingga Daerah
Senada dengan hal tersebut, Ade Firmansyah menekankan bahwa kolaborasi PKS dan Gerindra yang sudah terjalin di tingkat nasional harus “turun” hingga ke level akar rumput di Depok. Ia mengibaratkan kontestasi politik layaknya pertandingan sepak bola: ada persaingan di lapangan, namun bersalaman dan bertukar kaos saat peluit akhir berbunyi.
“Saat ini baterai politik kita sedang di-charge kembali melalui silaturahmi ini. Kita ingin memastikan tidak ada sumbatan komunikasi agar program pembangunan pemerintah kota yang dirasakan rakyat tidak terhambat oleh perbedaan pandangan politik,” jelas Ade Firmansyah.
Visi Kedepan: Politik yang Menyejukkan
Menyambut hangat kunjungan tersebut, Pradi Supriatna menyatakan bahwa silaturahmi ini adalah langkah mulia untuk menyerap aspirasi warga secara lebih kolektif. Ia berharap nuansa sejuk ini dapat melahirkan solusi-solusi cepat dan tepat sasaran bagi permasalahan kota.
“Ini ajang yang sangat mulia. Kita bisa duduk bersama, bertukar ide untuk membantu pengambil kebijakan, yaitu Pak Supian Suri dan Pak Chandra Rahmansyah. Intinya adalah kebermanfaatan bagi masyarakat, yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” pungkas Pradi.
Pertemuan di Kukusan ini menjadi simbol kuat bahwa meski PKS dan Gerindra sempat berseberangan dalam dua periode Pilkada terakhir, semangat Idulfitri dan komitmen terhadap pembangunan Kota Depok telah menjadi jembatan rekonsiliasi yang melampaui kepentingan kelompok.








































