Depok (08/01/2026) – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa situasi di Venezuela kini berangsur stabil dan kondusif, menyusul penangkapan paksa Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1).
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, mengungkapkan bahwa laporan dari Duta Besar RI di Caracas, Fikry Cassidy, menunjukkan pemulihan aktivitas publik.
“Situasi sudah stabil, jadi toko-toko sudah buka, lalu lalang kendaraan juga sudah mulai normal… Memang ada demo-demo tapi masih terkendali,” ujar Heni saat dihubungi pada Kamis (8/1/2025).
Heni menegaskan bahwa 37 WNI yang terdata berada di Venezuela berada dalam kondisi aman dan baik. KBRI Caracas terus memonitor kondisi dan menjalin komunikasi intensif dengan seluruh WNI di sana pasca-serangan AS yang menuai kecaman dari berbagai pemimpin internasional.
Kelangkaan Bahan Bakar dan Rencana Kontingensi
Kemlu juga mengklarifikasi isu kelangkaan bahan bakar yang sempat terjadi. Menurut laporan Dubes, kelangkaan tersebut bukan karena tidak adanya stok, melainkan disebabkan oleh penutupan tempat pengisian bahan bakar.
Meskipun situasi telah stabil, Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa KBRI Caracas telah menyusun contingency plan (rencana darurat) sebagai langkah antisipatif.
“Rencana kontijensi itu pasti kita buat, jadi kalau nanti memburuk, baru evakuasi,” tambah Heni, menandakan kesiapan penuh pemerintah Indonesia dalam melindungi warga negaranya jika kondisi keamanan di Venezuela memburuk kembali.
Penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kini dibawa ke AS untuk diadili atas tuduhan narko-terorisme, merupakan puncak dari tekanan diplomatik dan militer yang dilancarkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.






























