Depok (14/03/2026) – Di tengah blokade maritim yang melumpuhkan Selat Hormuz, Pemerintah Iran dilaporkan mulai membuka “pintu darurat” bagi perdagangan energi global. Teheran dikabarkan bersedia memberikan izin melintas bagi kapal tanker minyak dengan syarat khusus: seluruh kargo harus diperdagangkan menggunakan mata uang Yuan China.
Laporan yang pertama kali dirilis oleh CNN ini mengutip sumber internal pejabat Iran. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Teheran untuk memukul balik dominasi Dolar AS sekaligus mengamankan aliran ekonomi di tengah eskalasi perang dengan aliansi Amerika Serikat-Israel.
Pergeseran Kiblat Perdagangan Minyak
Meskipun mayoritas transaksi minyak dunia secara tradisional menggunakan Dolar AS, langkah Iran ini mempertegas tren “dedolarisasi” yang sebelumnya telah dipelopori oleh Rusia melalui penggunaan Rubel dan Yuan. Upaya ini merupakan bagian dari cetak biru strategis yang sedang disusun Teheran untuk mengelola lalu lintas di jalur air paling vital di dunia tersebut.
Meski demikian, pihak Al Jazeera menyatakan belum bisa memverifikasi klaim tersebut secara independen di lapangan.
Diplomasi Langsung ke Teheran, Abaikan Washington
Trita Parsi, pendiri lembaga think tank Quincy Institute for Responsible Statecraft, menilai fenomena ini sebagai bukti nyata pergeseran peta kekuatan di kawasan. Penutupan Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi global memaksa banyak negara untuk bernegosiasi langsung dengan Iran, bukan lagi meminta bantuan Amerika Serikat.
“Negara-negara kunci sekarang menghubungi Iran untuk menemukan cara menegosiasikan jalur aman mereka sendiri. India telah mencapai kesepakatan. Prancis dan Italia juga melakukan hal serupa. Mereka berbicara ke Teheran, bukan ke Washington,” ungkap Parsi kepada Al Jazeera.
Poin Utama Situasi Terkini:
-
Syarat Transaksi: Izin melintas diberikan secara terbatas dengan syarat penggunaan Yuan.
-
Dominasi Kawasan: Negosiasi bilateral yang dilakukan negara-negara Eropa dan Asia menunjukkan Iran memegang kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz saat ini.
-
Dampak Global: Langkah ini berpotensi merusak struktur pasar minyak dunia yang selama ini bergantung pada sistem keuangan berbasis Amerika Serikat.
Hingga saat ini, pelaku pasar energi dunia terus memantau apakah skema perdagangan berbasis Yuan ini akan menjadi standar baru di kawasan Teluk selama masa konflik berlangsung.


































