Tragedi Maut Siswa SMAN 5 Bandung: Gubernur KDM Tekan Akuntabilitas Orang Tua

Depok (15/03/2026) – Gugurnya seorang siswa SMAN 5 Bandung dalam bentrokan berdarah antar-pelajar pada Jumat (13/3/2026) malam memicu reaksi keras dari pucuk pimpinan Jawa Barat. Gubernur Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, secara terbuka menyoroti rapuhnya pengawasan keluarga sebagai faktor utama di balik eskalasi tawuran jalanan yang merenggut nyawa tersebut.

Berbicara di Mapolsek Gempol, Kabupaten Cirebon, Sabtu (14/3), KDM menegaskan bahwa peran sekolah dan negara memiliki batasan fisik, terutama saat siswa telah berada di luar jam operasional akademik.

Pelanggaran Komitmen di Atas Materai

KDM mengungkap adanya paradoks dalam kedisiplinan orang tua. Menurutnya, seluruh orang tua siswa telah menandatangani surat pernyataan bermaterai yang melarang penggunaan kendaraan bermotor bagi anak di bawah umur. Namun, realitas di lapangan menunjukkan pengabaian terhadap komitmen hukum tersebut.

“Peristiwa ini terjadi di luar kendali sekolah dan dilakukan secara mandiri. Karena itu, tanggung jawab yang melekat sepenuhnya berada di tangan orang tua,” cetus KDM.

Ia mengimbau para orang tua untuk tidak bersikap abai setelah anak meninggalkan gerbang sekolah. “Awasi jam keberangkatan dan kepulangan mereka. Tidak semua dinamika anak harus dibebankan pada pundak sekolah atau Gubernur,” tambahnya.

Kronologi Malam Kelabu di Coblong

Insiden yang melibatkan kelompok siswa dari SMAN 5 dan SMAN 2 Bandung ini pecah sejak Jumat malam hingga dini hari. Sebuah video pengeroyokan yang viral di jagat maya memperlihatkan aksi anarkisme massal yang berakhir tragis dengan terkaparnya seorang pemuda di trotoar jalan.

Kapolsek Coblong, Riki Erickson, mengonfirmasi identitas korban tewas. “Dugaan kuat adalah pengeroyokan antar-kelompok siswa SMAN 5 dan SMAN 2. Satu korban dari SMAN 5 meninggal dunia,” ungkap Riki. Guna penyelidikan lebih mendalam, kasus ini kini telah ditarik ke tingkat Satreskrim Polrestabes Bandung.

Duka Mendalam di SMAN 5 Bandung

Suasana berkabung menyelimuti SMAN 5 Bandung menyusul kepergian Muhammad Fahdly Arjasubrata. Plt Kepala Sekolah, Agus Ferdiana, meminta publik untuk menghentikan penyebaran video kekerasan demi menjaga martabat keluarga korban.

“Kami menyerahkan seluruh proses hukum kepada kepolisian dan meminta warga sekolah tetap tenang,” tulis Agus dalam rilis resminya. Sebagai langkah mitigasi trauma, pihak sekolah juga telah membuka layanan bimbingan konseling bagi para siswa yang terdampak secara psikologis akibat tragedi ini.

Tragedi ini menjadi rapor merah bagi pola pengasuhan di era digital, di mana koordinasi antara jam pulang sekolah dan pengawasan rumah menjadi celah fatal yang berujung pada hilangnya nyawa generasi muda.

Komentar

komentar

BAGIKAN