Urat Nadi yang Terancam: Memaknai Ciliwung di Hari Air Sedunia

Depok (31/03/2026) – Di balik keran air yang mengalir di rumah-rumah warga Depok, ada perjalanan panjang sejauh puluhan kilometer yang bermula dari lekuk sungai paling ikonik di Jawa Barat: Ciliwung. Memperingati Hari Air Sedunia, Sungai Ciliwung kini bukan lagi sekadar latar geografis, melainkan tumpuan hidup (life support) bagi ribuan jiwa di Kota Belimbing.

Jantung Hidrologis Kota

Membentang sepanjang 26 kilometer saat membelah sisi timur Depok—mulai dari Pancoran Mas, Sukmajaya, hingga Beji—Ciliwung merupakan bagian dari maraton aliran air sepanjang 117 hingga 120 kilometer dari Bogor menuju Jakarta. Bagi PDAM Kota Depok, sungai ini adalah “ladang” air baku yang tak tergantikan untuk menyuplai kebutuhan domestik hingga industri.

Namun, keberadaan air secara kuantitas tidaklah cukup. Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengingatkan bahwa kualitas air baku adalah cermin dari kesehatan ekosistem sungai itu sendiri.

“Sungai punya fungsi luas: pengatur iklim mikro, indikator kualitas lingkungan, hingga drainase alami untuk mengendalikan banjir,” ujar Reni, Selasa (31/03/26).

Antara Potensi dan Polusi

Ciliwung sebenarnya menyimpan wajah ganda. Di satu sisi, ia adalah aset estetika yang menawarkan potensi wisata alam, penggerak ekonomi, serta ruang edukasi terbuka. Di sisi lain, ia rapuh terhadap perilaku manusia.

Masalah klasik yang masih menghantui adalah mentalitas menjadikan sungai sebagai “tempat sampah raksasa”. DLHK menyoroti tiga ancaman utama yang kerap diabaikan masyarakat:

  • Limbah Rumah Tangga: Pembuangan sampah padat dan limbah cair dapur/kamar mandi langsung ke aliran sungai.

  • Okupansi Bantaran: Pembangunan bangunan di area buffer zone atau sempadan sungai yang merusak daya serap tanah.

  • Kurangnya Vegetasi: Minimnya penghijauan di sepanjang tepian yang menyebabkan erosi.

Mengubah Paradigma: Menjaga Air, Menjaga Masa Depan

Pesan inti pada peringatan tahun ini adalah transformasi peran masyarakat dari sekadar konsumen menjadi pelindung. Reni Siti Nuraeni menegaskan bahwa edukasi antarwarga adalah benteng terakhir pertahanan sungai. Keberanian untuk saling mengingatkan saat melihat aksi pencemaran menjadi kunci keberlangsungan air bersih.

“Jangan cemari sungai. Kita jaga bersama, saling mengingatkan, dan terus edukasi,” tegas Reni.

Peringatan Hari Air Sedunia di Depok tahun ini membawa satu simpulan kuat: Ciliwung adalah masa depan. Menjaga kesucian alirannya bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan upaya memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati hak dasar mereka atas air bersih. Karena pada akhirnya, air yang mengalir di gelas kita hari ini adalah titipan dari sungai yang kita jaga bersama.

Komentar

komentar

BAGIKAN