Depok (04/05/2026) – Di tengah derasnya arus tren global dan modernisasi yang mendominasi gaya hidup generasi muda, Sanggar Kinang Putra tetap teguh berdiri sebagai benteng pelestarian budaya lokal. Terletak di Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, sanggar ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang kesenian Topeng Cisalak yang telah bertahan selama lebih dari satu abad.
Warisan Lintas Generasi Sejak 1918
Didirikan pada tahun 1918 oleh Mak Tua Kinang dan Bapak Djiun, Sanggar Kinang Putra kini dikelola oleh generasi ketiga, Andi Supardi. Di bawah kepemimpinannya, sanggar ini bertransformasi menjadi pusat edukasi seni yang komprehensif, mencakup elemen musik, tari, komedi (bodoran), hingga sastra tutur.
“Tanggung jawab kami adalah memastikan warisan ini tidak terhenti di buku sejarah melalui pengkaderan yang berkelanjutan,” ujar Andi, yang akrab disapa Babeh Andi. Saat ini, sanggar tersebut membina sekitar 60 anggota muda yang rutin berlatih setiap Minggu pagi dan Rabu sore.
Prestasi dan Pengakuan Nasional
Eksistensi Sanggar Kinang Putra tidak hanya diakui di tingkat lokal, tetapi juga telah mencapai panggung nasional dan internasional. Beberapa pencapaian krusial yang diraih antara lain:
-
Warisan Budaya Tak Benda (WBTB): Tari Topeng Cisalak resmi ditetapkan sebagai WBTB pada tahun 2022 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
-
Penghargaan Institusional: Dinobatkan sebagai Sanggar Berprestasi oleh Disporyata Kota Depok serta meraih berbagai trofi dari ajang Selaras Pinang Masak hingga Piala Wali Kota Depok.
-
Panggung Internasional: Tampil dalam ajang bergengsi seperti Jakarta World Folkfest 2025 di hadapan para pejabat negara dan tamu internasional.
-
Capaian Kompetisi: Meraih Juara 1 kategori SMA di Depok Town Square serta berbagai penghargaan dari kompetisi di Transmart Cibubur dan Pluit Baywalk pada tahun 2025.
Inovasi dan Perlindungan Kekayaan Intelektual
Menyadari tantangan zaman, Sanggar Kinang Putra menerapkan prinsip adaptasi tanpa menghilangkan esensi tradisi. Strategi ini diwujudkan melalui pendaftaran empat karya ke dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yaitu:
-
Pementasan Ritual Kehidupan (Pantun Nusantara).
-
Eksperimentasi Musik Tanjidor.
-
Tari Berbasis Silat Pengasinan.
-
Tari Topeng Gegot.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital melalui platform YouTube dan Instagram menjadi alat promosi efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan menarik minat generasi muda seperti Deswita, salah satu penari muda yang telah tampil di berbagai ajang internasional.
Harapan terhadap Dukungan Pemerintah
Meski mandiri dalam berkarya, Babeh Andi menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah, khususnya Disporyata Kota Depok, untuk menjalankan fungsi perlindungan hukum bagi para seniman tradisi. Ia berharap pemerintah tidak sekadar melakukan pendataan, tetapi juga menghadirkan proyek nyata yang mampu memacu kreativitas sanggar lokal.
Bagi Sanggar Kinang Putra, pelestarian budaya bukan sekadar hobi, melainkan upaya menjaga jati diri bangsa agar tidak tergerus oleh algoritma media sosial. “Modernitas mungkin menarik, namun budaya tradisi adalah nilai jual unik Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.



































