Pembangunan kerap dipahami sebatas deretan angka pertumbuhan ekonomi, proyek infrastruktur, dan kemajuan teknologi. Narasi ini mendominasi wacana publik selama bertahun-tahun. Namun di balik geliat pembangunan tersebut, berbagai persoalan justru terus mengemuka: kesenjangan sosial melebar, kemiskinan struktural bertahan, kerusakan lingkungan meningkat, dan krisis moral semakin terasa.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan yang kita jalankan benar-benar bertujuan memuliakan manusia? Dalam konteks inilah, perspektif Islam menawarkan cara pandang alternatif yang lebih utuh dan berimbang.
Islam tidak menolak pembangunan. Sebaliknya, Islam justru menempatkan pembangunan sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah fi al-ardh—pemimpin di muka bumi—yang bertugas memakmurkan alam sekaligus menjaganya dari kerusakan. Pembangunan, dalam Islam, bukan sekadar proyek duniawi, melainkan bagian dari ibadah.
Pembangunan yang Holistik dan Bernilai Ibadah
Dalam khazanah Islam, pembangunan dikenal dengan konsep al-tanmiyah (pengembangan) dan al-‘imarah (pemakmuran). Keduanya menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan terjaganya hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah), sesama manusia (hablum minannas), dan alam semesta.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang cenderung menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi semata, pembangunan dalam Islam bersifat holistik. Ia mencakup dimensi material dan spiritual sekaligus. Pertumbuhan ekonomi tidak dianggap berhasil jika masih melahirkan ketidakadilan, eksploitasi, dan peminggiran kelompok lemah.
Islam menegaskan bahwa pembangunan harus menghadirkan keadilan, pemerataan, dan keberkahan, bukan sekadar kemajuan fisik yang timpang.
Tujuan Pembangunan: Menuju Falah
Tujuan utama pembangunan dalam Islam adalah mencapai falah, yakni kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Konsep ini melampaui indikator material semata.
Pembangunan dalam Islam bertujuan untuk:
- Mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin manusia.
- Menegakkan keadilan sosial dan ekonomi.
- Menghapus kemiskinan dan kebodohan melalui pemerataan akses pendidikan dan pekerjaan.
- Menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah Tuhan.
- Meningkatkan kualitas moral dan akhlak masyarakat.
Dengan tujuan tersebut, proses pembangunan tidak bisa menghalalkan segala cara. Cara dan tujuan harus sama-sama selaras dengan nilai syariat.
Sumber-Sumber Pembangunan dalam Islam
Islam menyediakan fondasi sumber pembangunan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga moral dan spiritual.
Pertama, sumber daya manusia (SDM). Islam memandang manusia sebagai aset utama pembangunan. Peningkatan kualitas SDM tidak hanya diukur dari keterampilan teknis, tetapi juga dari iman, ilmu, dan akhlak. Manusia beriman dan berilmu diyakini mampu mengelola sumber daya secara adil dan bertanggung jawab.
Kedua, sumber daya alam (SDA). Alam adalah karunia Allah SWT yang boleh dimanfaatkan, namun tidak untuk dieksploitasi secara berlebihan. Islam dengan tegas melarang kerusakan di muka bumi (fasad fi al-ardh). Prinsip keberlanjutan menjadi kunci agar manfaat SDA dapat dirasakan lintas generasi.
Ketiga, modal dan harta. Dalam Islam, harta adalah titipan, bukan tujuan akhir. Praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi dilarang. Sebaliknya, Islam mendorong distribusi kekayaan melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai instrumen pembangunan sosial dan ekonomi.
Keempat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam sangat menjunjung tinggi ilmu. Namun, kemajuan teknologi tidak bersifat bebas nilai. Ia harus diarahkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk merusak kemanusiaan atau lingkungan.
Kelima, nilai-nilai spiritual dan moral. Kejujuran, amanah, kerja keras, dan kepedulian sosial adalah fondasi pembangunan berkelanjutan. Tanpa moralitas, pembangunan justru berpotensi melahirkan korupsi dan ketimpangan.
Zakat dan Wakaf sebagai Pilar Pembangunan Sosial
Zakat dan wakaf memiliki peran strategis dalam sistem pembangunan Islam. Zakat berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan untuk mengurangi kesenjangan dan kemiskinan. Wakaf, di sisi lain, menjadi instrumen pembangunan jangka panjang dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.
Jika dikelola secara profesional dan amanah, zakat dan wakaf dapat menjadi sumber pembiayaan pembangunan yang adil dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ekonomi umat dari bawah.
Penutup
Di tengah berbagai krisis pembangunan yang kita hadapi hari ini—baik ekonomi, sosial, maupun moral—konsep pembangunan dalam perspektif Islam menjadi semakin relevan untuk dikaji dan diterapkan. Islam menawarkan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan korban pembangunan.
Pembangunan yang berlandaskan tauhid, keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan bukan hanya memungkinkan terciptanya kesejahteraan material, tetapi juga membangun peradaban yang bermartabat. Inilah arah pembangunan yang tidak hanya memajukan dunia, tetapi juga mengantarkan manusia menuju kebahagiaan akhirat.
Artikel ini ditulis oleh Pratiwi Rahmadani dan disunting oleh Agus










































