Depok (02/04/2026) – Lawatan diplomatik Presiden Prabowo Subianto ke dua raksasa ekonomi Asia Timur, Jepang dan Korea Selatan, mencatatkan angka fantastis. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengonfirmasi total komitmen investasi yang berhasil dibawa pulang mencapai Rp 574 triliun, sebuah sinyal kuat atas kepercayaan pasar global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah volatilitas geopolitik.
Mewakili Presiden dalam forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth di Seoul, Rabu (1/4), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merinci bahwa perolehan ini merupakan akumulasi dari kesepakatan strategis di Tokyo dan Seoul.
Rapor Investasi: Jepang Memimpin, Korea Mengakselerasi
Angka Rp 574 triliun tersebut terbagi dalam dua klaster besar:
-
Jepang: Menyumbang komitmen sebesar USD 23,6 miliar (±Rp 401 triliun). Jepang saat ini kokoh di peringkat ketiga mitra investasi dan perdagangan Indonesia.
-
Korea Selatan: Menandatangani MoU senilai USD 10,2 miliar (±Rp 173 triliun). Korea Selatan menempati posisi ketujuh dan diproyeksikan terus menanjak melalui skema co-investment.
“Ini angka yang sangat signifikan. Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia tetap menjadi daya tarik utama. Jepang dan Korea sangat berharap bisa menjadi co-investor melalui sovereign wealth fund kita,” ujar Airlangga, Kamis (2/4/2026).
Diversifikasi Sektor: Dari Gas Masela hingga Kecerdasan Buatan
Kerja sama ini tidak lagi hanya berfokus pada manufaktur konvensional, melainkan telah bergeser ke sektor teknologi masa depan dan energi hijau:
1. Sektor Energi & Transisi Hijau: Fokus pada Proyek Masela (Jepang), pengembangan tenaga surya, hingga teknologi mutakhir Carbon Capture and Storage (CCS) dan baterai kendaraan listrik (Korea Selatan).
2. Industri Manufaktur & Teknologi: Penguatan industri baja (POSCO) dan otomotif ramah lingkungan. Menariknya, kolaborasi kini merambah ke sektor Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital untuk memperkuat daya saing industri nasional.
3. Infrastruktur & Keuangan: Pengembangan kawasan properti di Bumi Serpong Damai (BSD) serta sinergi keuangan antara SMBC dan Pegadaian guna mendorong inklusi finansial.
Danantara dan Strategi Debottlenecking
Dalam peta jalan investasi ini, lembaga pengelola investasi Danantara disiapkan menjadi mitra strategis bagi investor kakap seperti Lotte. Pemerintah juga berkomitmen melakukan langkah “debottlenecking” secara sistematis—sebuah upaya akselerasi untuk menyapu bersih hambatan birokrasi dan teknis yang sering kali menyumbat realisasi proyek di lapangan.
Kemitraan ini juga diperkuat melalui jalur business-to-business (B2B) antara Kadin Indonesia dengan Korea Chamber of Commerce and Industry serta JETRO, memastikan bahwa rantai pasok global, terutama di industri baterai dan manufaktur teknologi tinggi, akan semakin berpusat di Indonesia.
Capaian Rp 574 triliun ini menjadi pijakan awal bagi pemerintahan Presiden Prabowo dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan nilai tambah domestik dan hilirisasi industri yang berkelanjutan.





































