Depok (05/04/2026) – Pemerintah Kota Depok meluncurkan kritik konstruktif terhadap peran lembaga keagamaan dalam struktur sosial masyarakat. Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menegaskan bahwa keberadaan rumah ibadah di wilayahnya harus bertransformasi dari sekadar pusat ritualitas menjadi episentrum problem solving bagi persoalan ekonomi dan kemiskinan.
Pernyataan tajam tersebut disampaikan Chandra dalam forum Halal Bihalal dan Diskusi Lintas Agama yang diinisiasi oleh Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Depok di Gereja HKI Juanda, Sukmajaya, Sabtu (04/04/26).
Kritik Atas Paradoks Spirtualitas dan Kemiskinan
Chandra menyoroti adanya jurang pemisah antara kuantitas rumah ibadah dengan kondisi kesejahteraan jemaatnya. Ia mempertanyakan relevansi kehadiran fisik lembaga agama jika gagal mengintervensi angka kemiskinan di sekitarnya.
“Apa gunanya banyak rumah ibadah di Depok tapi masyarakat miskinnya bertambah? Jangan agama hanya dijadikan magnet ritualitas tanpa esensi spiritualitas. Padahal, semua agama mewajibkan umatnya untuk berbagi,” ujar Chandra dengan nada retoris.
Data pemerintah mencatat, saat ini masih terdapat sekitar 60 ribu penduduk di Kota Depok yang masuk dalam kategori miskin. Chandra menilai fakta ini sebagai ironi, mengingat struktur lembaga agama seharusnya memiliki basis massa yang kuat untuk melakukan pemberdayaan ekonomi secara mandiri.
Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Dalam pandangan Chandra, pemberdayaan lembaga agama adalah kunci untuk mewujudkan cita-cita sila kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ia mendorong agar struktur keagamaan difungsikan sebagai instrumen pendukung kebijakan pemerintah.
Poin Strategis Kolaborasi Pemkot dan Tokoh Lintas Agama:
-
Fungsi Struktur: Lembaga agama harus mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah internal umat sebelum meluas menjadi beban sosial kota.
-
Kemitraan Strategis: Tokoh lintas agama diposisikan sebagai mitra sejajar pemerintah dalam menjalankan program kerja yang menyasar kebahagiaan warga.
-
Pemberdayaan Instrumen: Memanfaatkan jejaring rumah ibadah untuk mendistribusikan keadilan ekonomi secara merata.
Apresiasi terhadap Diskusi Konstruktif
Chandra turut memberikan apresiasi kepada PIKI Kota Depok, Majelis Pekerja Harian PGI Kota Depok, dan STT Skriptura atas keberanian membuka ruang dialog lintas iman. Menurutnya, diskusi tatap muka yang sehat adalah diskusi yang membebaskan gagasan tanpa sekat.
“Diskusi yang sehat adalah bebas mengeluarkan pikiran dan pengetahuan kita, sehingga hasilnya bisa berjalan konstruktif bagi pembangunan daerah,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi mandat baru bagi seluruh pengelola rumah ibadah di Depok untuk mulai membedah data kemiskinan di sekitar mereka dan menjadikannya agenda prioritas di samping kegiatan peribadatan rutin. Kebahagiaan warga Depok, menurut Chandra, hanya bisa terwujud jika spiritualitas agama telah mampu menjawab jeritan perut masyarakat bawah.



































