Satu Napas Budaya 76 Tahun: Indonesia-Arab Saudi Pererat Penjagaan Warisan Dunia

Depok (02/04/2026) – Hubungan emosional antara Jakarta dan Riyadh yang telah terpupuk selama lebih dari tujuh dekade kini memasuki babak baru yang lebih spesifik. Di bawah nakhoda Kementerian Kebudayaan RI yang baru terbentuk, Indonesia dan Arab Saudi sepakat untuk menjadikan kebudayaan sebagai instrumen utama dalam mempererat ikatan bilateral.

Dalam pertemuan diplomatik di Jakarta, Rabu (1/4), Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyambut kunjungan kehormatan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi, Faisal Abdullah H. Amodi. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pernyataan komitmen strategis untuk menjaga harta karun kebudayaan kedua negara.

Restorasi MoU dan Kunjungan Pangeran Badr

Agenda krusial yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah rencana pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) Kebudayaan yang akan berakhir pada 2027. Momentum ini diprediksi akan mencapai puncaknya saat Menteri Kebudayaan Arab Saudi, Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan Al Saud, bertandang ke Jakarta dalam 10 hari ke depan.

“Ini adalah kementerian kebudayaan pertama yang berdiri sendiri setelah 79 tahun. Kami ingin memastikan hubungan 76 tahun dengan Arab Saudi semakin kuat di sektor ini,” tegas Fadli Zon, Kamis (2/4/2026).

Misi Global: Kaligrafi, Pohon Kurma, hingga Kursi UNESCO

Diplomasi ini juga merambah ke panggung dunia, tepatnya di markas UNESCO. Indonesia secara resmi menjajaki ekstensi elemen Warisan Budaya Takbenda yang sebelumnya telah diinskripsi secara multinasional oleh Arab Saudi. Beberapa poin kolaborasi seni dan praktik hidup yang dibahas meliputi:

  • Kaligrafi Arab: Indonesia mendorong pengajuan perluasan elemen ini sebagai bagian dari identitas seni rupa yang hidup di tanah air.

  • Majlis & Date Palm (Kurma): Penjajakan elemen budaya terkait ruang pertemuan sosial (Majlis) dan kurma yang memiliki relevansi praktik di kedua negara.

  • Dukungan Komite UNESCO: Indonesia menggalang dukungan Arab Saudi untuk pencalonan dalam UNESCO Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage periode 2026-2030.

Layar Lebar: Dari Jeddah hingga Yogyakarta

Selain warisan tradisional, industri kreatif modern menjadi sorotan utama. Kedua negara melihat potensi besar dalam industri perfilman. Fadli Zon mengusulkan adanya joint-production serta sinergi antar-festival film bergengsi, yakni Red Sea Film Festival di Jeddah dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta.

Dubes Faisal Abdullah merespons positif visi tersebut dengan menyatakan bahwa pihak Kerajaan akan bergerak cepat menindaklanjuti usulan Indonesia melalui mekanisme nota diplomatik.

“Kami berharap kerja sama ini memberikan manfaat besar bagi ekosistem kebudayaan di kedua negara,” pungkas Fadli Zon.

Kolaborasi ini menandai transformasi diplomasi Indonesia-Arab Saudi yang tidak lagi hanya berkutat pada sektor energi dan haji, namun telah merambah ke wilayah rasa, seni, dan pelestarian identitas peradaban di kancah global.


Komentar

komentar

BAGIKAN