Depok (02/04/2026) – Di tangan dua remaja ini, bakti sosial tak lagi sekadar meminta donasi, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang berputar untuk kemanusiaan. Mikhael Nixon Kesuma dan Matthew Niel Kesuma resmi menginisiasi sebuah gerakan sosial di Kota Depok yang menggabungkan aksi filantropi langsung dengan pemberdayaan sektor UMKM.
Langkah ini diambil untuk membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa tumbuh secara berkelanjutan jika dikelola dengan semangat kolaborasi dan kreativitas anak muda.
Jumat Berkah di Jantung Kota Depok
Aksi nyata duo remaja ini dimulai dari meja makan. Menggandeng mitra lokal Warteg Selera Bahari yang berlokasi di Jalan Kartini 29 F, Depok, mereka rutin menggelar program “Jumat Berkah”. Melalui inisiatif ini, ratusan porsi makanan dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan.
“Kami ingin mengajak semua orang untuk meningkatkan kesadaran sosial, bukan hanya lewat wacana, tapi melalui aksi nyata yang menyentuh masyarakat langsung,” ujar Nixon didampingi Matthew, Selasa (02/04/26).
Strategi Merchandise: Mandiri Membiayai Kebaikan
Yang membedakan gerakan Nixon dan Matthew dari aksi serupa lainnya adalah cara mereka mendanai program. Alih-alih bergantung pada sumbangan konvensional, mereka menyuntikkan napas ekonomi kreatif ke dalam gerakan ini:
-
Kolaborasi UMKM Sablon: Mereka menggandeng pelaku industri sablon lokal untuk memproduksi pakaian dan atribut lainnya.
-
Desain Ikonik: Nixon dan Matthew merancang desain dan logo khusus yang kemudian diaplikasikan menjadi merchandise eksklusif.
-
Filantropi 100 Persen: Seluruh keuntungan dari penjualan merchandise ini diputar kembali untuk membiayai operasional dan pengadaan makanan dalam kegiatan bakti sosial mereka.
Memberdayakan Sambil Berbagi
Model kolaborasi ini menciptakan dampak ganda (double impact). Di satu sisi, pengusaha sablon lokal mendapatkan pesanan dan ruang eksposur (pemberdayaan ekonomi), sementara di sisi lain, hasil penjualannya mampu memberi makan warga yang lapar (dampak sosial).
Nixon dan Matthew menegaskan bahwa komitmen ini bukan sekadar tren sesaat. Mereka berambisi untuk terus memperluas jaringan kemitraan dengan melibatkan lebih banyak lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Melalui “Gerakan Bakti Sosial” ini, kedua remaja tersebut berharap nilai-nilai empati dan gotong royong dapat berevolusi menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda. Sebuah pesan kuat bahwa untuk membantu sesama, kreativitas dan keberanian untuk menggandeng tetangga (UMKM) adalah modal yang tak ternilai harganya.





































