DEPOK (21/07/2026) – Inisiatif menciptakan kawasan pemukiman perkotaan yang asri, sehat, sekaligus produktif terus diakselerasi oleh Pemerintah Kota Depok. Lewat pilar Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok, ajang Lomba REHAT di HATINYA PKK Kota Depok 2026 dijadikan sebagai stimulus utama dalam memicu kesadaran warganya. Tahap verifikasi lapangan yang dihelat di kawasan RW 08 Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, pada Selasa, 21 Juli 2026, turut dihadiri langsung oleh Wali Kota Depok, Supian Suri, beserta Ketua TP-PKK Kota Depok, Siti Barkah Hasanah. Penilaian tahun ini tidak lagi menitikberatkan pada aspek estetika visual kebersihan hunian semata, melainkan mengukur secara komprehensif indikator kelayakan hidup penghuninya.
Kepala DKP3 Kota Depok, Dadan Rustandi, menerangkan bahwa instrumen akreditasi konsep “REHAT” atau Rumah Sehat mencakup variabel ketat, mulai dari sirkulasi ventilasi udara yang ideal, kelancaran sistem drainase, hingga kekuatan ketahanan pangan berbasis pekarangan. Setiap hunian dinilai dari kemampuannya mengoptimalkan pekarangan rumah untuk budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) serta tanaman pangan produktif penunjang kebutuhan Dapur harian. Dadan mengutarakan pada Rabu, 22 Juli 2026, bahwa sesuai dengan instruksi Wali Kota, tiap titik perlombaan diwajibkan memiliki minimal 20 rumah percontohan—suatu target yang berhasil dilampaui oleh warga RW 08 Jatijajar—guna memantik replikasi gerakan serupa di lingkungan sekitar.
Ke depan, DKP3 menggarap skema lomba ini agar dapat terinstitusionalisasi secara berjenjang dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga puncak kompetisi di tingkat kota. Wali Kota Depok menaruh harapan agar replikasi konsep rumah sehat ini kelak dapat menyerupai kawasan percontohan “Lembur Kuring” yang berfungsi sebagai wahana edukasi publik dan ruang pembelajaran praktis bagi para pelajar. Mengingat setiap wilayah kecamatan memiliki keunggulan kompetitif yang beragam—baik dari sisi keandalan infrastruktur fisik maupun produktivitas panen pekarangannya—dewan juri akan menimbang nilai keunggulan tersebut secara objektif. Kendati demikian, Dadan menegaskan bahwa esensi tertinggi dari kompetisi ini terletak pada konsistensi warga dalam memelihara iklim gotong royong serta membudayakan pola hidup sehat di lingkungan masing-masing.
































