DEPOK (14/09/2026) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok melaporkan laju inflasi bulanan (month-to-month) di Kota Depok pada Agustus 2026 berada di angka 0,07 persen. Kendati inflasi bulanan tergolong landai, tingkat inflasi tahunan (year-on-year) melonjak hingga mencapai 3,21 persen. Kepala BPS Kota Depok, Agus Marzuki, mengungkapkan bahwa capaian laju inflasi tahunan tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir jika dibandingkan dengan periode Agustus 2024 sebesar 2,24 persen dan Agustus 2025 yang hanya menyentuh 1,85 persen.
Laju inflasi bulanan pada Agustus dipicu oleh kenaikan harga di sejumlah sektor, seperti kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga yang naik 0,55 persen, sektor pendidikan sebesar 0,55 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,52 persen, rekreasi dan olahraga 0,22 persen, serta sektor kesehatan 0,06 persen. Komoditas seperti daging ayam ras, beras, pasta gigi, jagung manis, dan emas perhiasan menjadi penyumbang andil terbesar terhadap kenaikan harga. Menurut Agus, tren penguatan harga pangan ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan seiring bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), dampak musim kemarau, serta dinamika harga energi dan pangan di pasar global.
Tekanan inflasi secara keseluruhan masih dapat tertahan berkat deflasi pada beberapa komoditas utama, seperti minyak goreng, bawang merah, bensin, sabun mandi cair, dan tomat. Menganalisis pergerakan harga selama empat bulan terakhir—mulai dari kenaikan harga bawang merah pada Mei dan Juni, penyesuaian harga bensin di bulan Juli, hingga lonjakan harga daging ayam ras pada Agustus—BPS menilai dinamika harga di Kota Depok secara umum masih tergolong wajar dan terkendali meskipun mengalami fluktuasi.





































