May Day Jerman: 360 Ribu Buruh Turun ke Jalan, Kecam Wacana Penghapusan Jam Kerja 8 Jam

Depok (02/05/2026) – Gelombang protes besar melanda berbagai kota di Jerman dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional pada Jumat (1/5). Konfederasi Serikat Buruh Jerman (DGB) mencatat sebanyak 366.710 orang berpartisipasi dalam 413 rangkaian aksi yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Mengusung slogan “Pekerjaan Kami Diutamakan, Baru Keuntungan Anda,” massa menyuarakan penolakan keras terhadap wacana pemangkasan hak-hak pekerja di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kritik Tajam terhadap Pemerintah dan Pengusaha

Dalam aksi yang berlangsung di Nuremberg, Presiden DGB Yasmin Fahimi secara terbuka mengecam sikap para pengusaha dan politisi yang dinilai mengambinghitamkan kelas pekerja atas krisis ekonomi saat ini.

Fahimi memberikan peringatan keras terkait dua isu krusial yang dianggap sebagai “garis merah”:

  • Waktu Kerja: Menolak keras kemungkinan penghapusan standar jam kerja delapan jam. Menurutnya, melanggar aturan waktu kerja hanya akan merugikan pekerja tanpa meningkatkan produktivitas.

  • Jaminan Pensiun: Mengecam rencana pemangkasan manfaat pensiun negara. Fahimi menegaskan bahwa mengganggu jaminan pensiun berisiko memicu konflik sosial yang lebih luas.

Respon Terhadap Kebijakan Kanselir Merz

Aksi protes ini dipicu oleh pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada awal 2026 yang menyerukan agar warga bekerja lebih banyak guna memperbaiki kondisi ekonomi negara yang sedang memburuk. Pernyataan ini ditentang keras oleh DGB yang menganggap pemaksaan jam kerja tambahan sebagai pelanggaran batas hak dasar buruh.

Kekhawatiran Masa Depan Pensiun

Sentimen para demonstran sejalan dengan keresahan masyarakat luas. Berdasarkan survei terbaru dari Civey Institute pada akhir April, lebih dari 80 persen warga Jerman meragukan kecukupan dana pensiun mereka di masa depan untuk mempertahankan standar hidup saat ini.

Aksi May Day tahun ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah Jerman bahwa kebijakan ekonomi yang mengorbankan kesejahteraan dan waktu istirahat pekerja akan mendapatkan perlawanan sengit dari masyarakat.

Komentar

komentar

BAGIKAN