Gandrungi Bahasa dan Budaya Negeri Sakura, Generasi Muda Indonesia Jadi Motor Penggerak Diplomasi Budaya dengan Jepang

DEPOK (21/07/2026) – Minat tinggi generasi muda Indonesia dalam mempelajari bahasa dan kebudayaan Jepang memposisikan Nusantara sebagai salah satu pilar utama penggerak pertukaran budaya antarkedua negara. Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Bali, Miyakawa Katsutoshi, menguraikan bahwa Indonesia saat ini kokoh menempati posisi kedua secara global sebagai negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbanyak di dunia. Ketertarikan yang masif di Pulau Dewata dan berbagai wilayah lainnya disokong oleh beragam pendorong utama, mulai dari antusiasme terhadap budaya populer, proyeksi karier profesional, hingga ambisi untuk melanjutkan jenjang pendidikan di Negeri Sakura yang kini mencatatkan sekitar 7.000 mahasiswa asal Indonesia. Di Bali sendiri, komitmen peningkatan kompetensi bahasa ini tercermin dari keberadaan lebih dari 150 SMA dan SMK yang secara aktif memasukkan bahasa Jepang sebagai salah satu opsi mata pelajaran bahasa asing.

Jalur pendidikan linguistik ini tidak sekadar menjadi sarana penguasaan tata bahasa baku, melainkan meluas menjadi jembatan strategis penghubung hubungan bilateral sekaligus pembuka peluang kerja internasional. Salah satu buktinya terlihat dari keberangkatan sekitar 2.000 peserta program magang kerja ke Jepang pada November 2025 lalu. Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal The Japan Foundation, Inami Kazumi, menegaskan bahwa pembelajaran bahasa di tingkat sekolah menengah, termasuk Madrasah Aliyah (MA), membawa dampak jangka panjang berupa kokohnya jalinan persahabatan people-to-people contact. Berdasarkan data survei The Japan Foundation pada 2024, jumlah pembelajar bahasa Jepang di Indonesia diperkirakan menembus angka 700 ribu jiwa—sebuah capaian fantastis yang hanya berada di bawah Tiongkok.

Guna merawat iklim belajar yang inklusif dan interaktif, The Japan Foundation konsisten mengulirkan program pengiriman penutur asli atau Nihongo Partners lewat kolaborasi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI sejak 2014 serta Kementerian Agama RI sejak 2023. Secara akumulatif, program ini telah menerjunkan hingga 1.000 penutur asli ke Indonesia, di mana secara rutin disalurkan sekitar 120 tenaga pendamping ke seluruh penjuru Nusantara dan tujuh hingga delapan orang khusus ditempatkan di Bali. Program pendampingan selama enam bulan ini terbukti ampuh memantik antusiasme para siswa, sebagaimana diakui oleh Kepala SMAN 8 Denpasar I Wayan Sucipta dalam agenda sosialisasi yang dihadiri puluhan perwakilan dari 65 sekolah se-Bali. Kehadiran penutur asli tersebut dinilai sangat efektif mengasah kompetensi bahasa asing para murid sekaligus memperluas wawasan kebudayaan mereka untuk menangkap peluang karier global di masa depan.

Komentar

komentar

BAGIKAN