DEPOK (03/10/2026) – Alunan alat musik tradisional kolintang asal Minahasa, Sulawesi Utara, bergema di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, dalam pagelaran bertajuk “Celebrating Kolintang” pada Kamis (1/10/2026). Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa pentas seni yang memadukan kolintang dengan alat musik balafon khas Afrika Barat ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan media diplomasi budaya yang membawa pesan perdamaian dan ruang dialog antarbangsa. Berdasarkan siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris yang diterima pada Sabtu (3/10/2026), kolaborasi ini berakar dari penetapan UNESCO pada 2024 yang memasukkan kolintang dalam perluasan nominasi bersama balafon yang diajukan Mali, Burkina Faso, serta Pantai Gading dalam kerangka warisan budaya bersama (shared cultural heritage).
Asisten Direktur Jenderal Kebudayaan UNESCO, Nayef Al-Fayez, mengapresiasi tinggi inisiatif tersebut dengan menekankan pentingnya peran komunitas dalam merawat serta mewariskan nilai-nilai tradisi kepada generasi penerus. Dalam pergelaran tersebut, Grup PINKAN Kolintang Indonesia membawakan deretan lagu Nusantara, disusul penampilan musik tradisional dari seniman balafon, sebelum akhirnya kedua kelompok musik tersebut berkolaborasi memainkan lagu legendaris “La Vie en Rose” sebagai puncaknya. Dirangkaikan dengan peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, ajang ini sukses memperkenalkan kekayaan serta fleksibilitas ekspresi budaya Indonesia di panggung diplomasi internasional.

































