Revitalisasi Museum Kesaktian Pancasila: Wajah Baru Tata Pamer Berbasis Teknologi untuk Edukasi Lintas Generasi

DEPOK (02/10/2026) – Upaya menjembatani pemahaman sejarah antar-generasi menuntut museum sejarah untuk terus bertransformasi dalam menyampaikan narasi masa lalu. Semangat peremajaan tersebut diwujudkan melalui peresmian wajah baru Museum Kesaktian Pancasila di kawasan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026), tepat pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Langkah penataan ulang yang diinisiasi Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan di bawah kepemimpinan Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini tidak sekadar memperbarui fisik bangunan, melainkan menyempurnakan storyline, lini masa, konteks historis, hingga penyediaan tata pamer interaktif yang diperkaya teknologi digital dan ruang immersive guna memperkuat fungsi museum sebagai sarana pembelajaran publik yang kontekstual.

Transformasi penyampaian informasi tersebut sekaligus merespons pergantian lanskap pengunjung, khususnya Generasi Alpha yang akrab dengan media digital dan visual. Melalui pelibatan sejarawan, urutan peristiwa kini disajikan secara utuh dan terintegrasi dari gedung museum hingga ke situs-situs bersejarah di kawasan Lubang Buaya dengan konsep in-situ. Tanpa menghilangkan identitas dasarnya, sebanyak 34 diorama asli yang menggambarkan perjalanan sejarah kurun 1945–1974 tetap dipertahankan sejak pertama kali museum diresmikan pada 1 Oktober 1992. Bedanya, diorama-diorama ini kini dilengkapi fitur mutakhir seperti kaca bermedia video animasi berbasis AI, ruang relik memorabilia Pahlawan Revolusi yang diperbarui, serta penataan pencahayaan presisi agar perhatian pengunjung fokus pada materi edukasi.

Selain pembaharuan tata pamer dan tata ruang, revitalisasi ini menandai perubahan nama resmi dari yang sebelumnya Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) menjadi Museum Kesaktian Pancasila guna menciptakan kesatuan alur narasi dengan kawasan Monumen Pancasila Sakti. Sejalan dengan Rencana Strategis Kementerian Kebudayaan 2025–2029 terkait modernisasi museum dan digitalisasi kebudayaan, keberhasilan peremajaan ini tidak hanya diukur dari kecanggihan perangkat teknologi yang terpasang, melainkan dari sejauh mana inovasi tersebut mampu membantu pengunjung memahami tautan fakta, tokoh, serta kronologi peristiwa sejarah bangsa secara berkelanjutan.

Komentar

komentar

BAGIKAN