Cahaya di Balik Jari: Ratusan Siswa Tunanetra Bandung Raya Khatamkan Al-Qur’an Braille

Depok (14/03/2026) – Gema ayat suci Al-Qur’an memenuhi ruang Masjid Ibnu Umi Maktum, Kota Bandung, Sabtu (14/3/2026). Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadhan, ratusan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bandung Raya bersama anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) berhasil menuntaskan pembacaan 30 juz Al-Qur’an melalui metode Braille.

Kegiatan kolaboratif ini melibatkan sedikitnya 300 siswa SLB, 200 guru Pendidikan Agama Islam (PAI), serta 200 anggota Pertuni. Momen ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan simbol keteguhan hati para penyandang disabilitas netra dalam menjemput prestasi spiritual.

Prestasi Spiritual di Tengah Keterbatasan

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para siswa dan guru pendamping. Ia menekankan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi seseorang untuk mencintai Al-Qur’an.

“Kita boleh saja tidak melihat dengan mata, tetapi kita tidak boleh buta dalam hati dan semangat,” ujar Suyitno dalam sambutannya. Ia mengakui bahwa membaca Al-Qur’an Braille menuntut ketekunan ekstra, dan keberhasilan para siswa ini merupakan bukti nyata dari kesungguhan belajar mereka.

Komitmen Pendidikan Inklusi dan Kesetaraan

Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) harus setara dengan anak-anak pada umumnya. Hal ini selaras dengan arahan Menteri Agama untuk memperluas akses pendidikan melalui pengembangan program Madrasah Inklusi.

M. Munir, Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag, menambahkan bahwa pembinaan PAI di lingkungan SLB menjadi prioritas pemerintah. Ia juga menyoroti peran guru PAI di SLB yang dinilai memiliki dedikasi luar biasa.

“Banyak dari para guru ini juga penyandang disabilitas. Mereka memiliki kemampuan dan kesabaran ekstra dalam membimbing siswa-siswi istimewa ini,” jelas Munir.

Inklusi Sebagai Komitmen Nyata

Senada dengan hal tersebut, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, Helmy Halimatul Udhma, menyebut khataman ini sebagai bukti bahwa cahaya Al-Qur’an tidak mengenal batas fisik.

“Inklusi bukan sekadar konsep, melainkan komitmen nyata agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri,” tegas Helmy.

Melalui kegiatan ini, Kota Bandung kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota yang ramah disabilitas, di mana keterbatasan penglihatan justru melahirkan ketajaman hati dalam memaknai nilai-nilai religiusitas.

Komentar

komentar

BAGIKAN