Krisis Pertahanan Udara: Israel Dilaporkan Kehabisan Rudal Pencegat Balistik

Depok (15/03/2026) – Krisis amunisi melanda sistem pertahanan udara Israel di tengah eskalasi konflik yang kian meruncing dengan Iran. Laporan terbaru dari Semafor menyebutkan bahwa Tel Aviv telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) mengenai menipisnya stok rudal pencegat balistik mereka ke level kritis.

Kelangkaan ini dipicu oleh dua faktor utama: intensitas penggunaan pencegat yang masif sejak konflik musim panas lalu, serta taktik baru Iran yang menggunakan amunisi kluster pada rudal-rudal mereka guna membebani sistem pertahanan jarak jauh Israel.

Dilema Logistik dan Kesiapan AS

Pejabat AS yang berbicara dalam kondisi anonim menyatakan bahwa Washington telah memprediksi keterbatasan kapasitas Israel sejak berbulan-bulan lalu. Meskipun Israel tengah berupaya mencari solusi alternatif, ketergantungan pada sistem pencegat seperti Arrow (jarak jauh) dan David’s Sling (jarak menengah) tetap krusial untuk membendung rudal balistik antarbenua.

Di sisi lain, Pentagon menegaskan bahwa persediaan AS masih dalam kategori aman untuk melindungi personel dan pangkalan mereka di Timur Tengah. Namun, analis militer memperingatkan adanya tekanan pada pasokan domestik AS, terutama setelah penggunaan lebih dari 150 pencegat THAAD dan rudal Patriot senilai USD2,4 miliar di awal konflik.

“Departemen Pertahanan memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden Trump,” tegas Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell.

Kebijakan “Keadaan Darurat” Gedung Putih

Menanggapi situasi ini, pemerintahan Trump mengambil langkah cepat dengan mengabaikan persetujuan Kongres untuk menjual 12.000 unit badan bom serbaguna BLU-110A/B ke Israel. Klaim “keadaan darurat” menjadi landasan hukum utama guna mempercepat pasokan militer ke garis depan.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam keterangannya pada Minggu (15/3/2026), menyatakan bahwa sinergi militer AS-Israel telah berhasil mereduksi efektivitas serangan Iran secara signifikan.

  • Serangan Drone: Turun 95 persen.

  • Serangan Rudal Balistik: Turun 90 persen.

Proyeksi Perang: Ekskursi Singkat atau Konflik Berkepanjangan?

Presiden Donald Trump memberikan sinyal yang kontradiktif mengenai durasi perang. Meski menyebutnya sebagai “ekskursi jangka pendek” dan mengklaim kondisi internal Iran sedang runtuh, ia juga menegaskan kesiapan untuk melanjutkan konfrontasi selama diperlukan.

“Negara itu (Iran) dalam kondisi buruk. Semuanya runtuh. Perang ini akan berlangsung selama yang diperlukan,” ujar Trump, Jumat malam.

Hingga berita ini diturunkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan menipisnya stok rudal pencegat tersebut. Sementara itu, Pentagon dilaporkan telah memulai langkah-langkah untuk meningkatkan produksi sistem THAAD secara substansial guna mengantisipasi kemungkinan keterlibatan militer jangka panjang.

Komentar

komentar

BAGIKAN