Depok (14/03/2026) – Aroma masakan dan semangat kebersamaan memenuhi pelataran Masjid Istiqlal pada Sabtu (14/3/2026). Di bawah kubah megah masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut, Kedutaan Besar Rusia bersama Majelis Spiritual Muslim Rusia (SAM) merajut jembatan persahabatan melalui jamuan buka puasa bersama yang melibatkan ribuan warga.
Bukan sekadar kegiatan rutin, acara ini menjadi simbol kedekatan emosional antara dua negara yang secara geografis terpisah ribuan kilometer, namun disatukan oleh nafas religi yang sama.
4.000 Paket Berbuka dan Diplomasi Spiritual
Dalam kolaborasi erat dengan Kementerian Agama RI, pihak Rusia menyediakan sedikitnya 4.000 paket makanan berbuka puasa. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, bersama Wakil Resmi SAM untuk Indonesia, Arip Sultanmagomedov, dan Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar.
Dubes Tolchenov menegaskan bahwa momentum Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk mengekspresikan kasih sayang dan rasa saling pengertian antar-sahabat.
“Islam dan sejarah panjang hubungan kita telah membuat kita sangat dekat. Melalui kerja sama ini, kita membangun fondasi bagi kesejahteraan negara kita bersama,” ujar Tolchenov di sela-sela riuhnya suasana iftar.
Menjadi Cermin Toleransi Dunia
Salah satu poin krusial yang disoroti dalam pertemuan ini adalah posisi Indonesia dan Rusia sebagai negara dengan keragaman keyakinan yang luar biasa. Tolchenov memuji bagaimana kedua negara mampu mengelola keberagaman tersebut menjadi kekuatan, bukan pemisah.
“Kita bisa hidup berdampingan, tidak hanya antara Muslim dan Kristen, tapi dengan semua agama. Agama seharusnya menjadi pemersatu demi perdamaian dunia,” tambahnya.
Rekor Kegiatan Terbesar
Bagi Majelis Spiritual Muslim Rusia, acara di Istiqlal kali ini mencatatkan sejarah tersendiri. Arip Sultanmagomedov mengungkapkan bahwa ini adalah kegiatan terbesar yang pernah digelar organisasinya di Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai bersama dan dialog tulus yang tercipta di meja makan merupakan aset berharga bagi diplomasi kedua negara.
“Harapan kami, bulan suci ini membawa kedamaian, keberkahan, dan persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia serta masa depan yang lebih cerah,” tutur Arip.
Kegiatan yang berlangsung khidmat hingga kumandang adzan maghrib ini membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu harus dilakukan di balik meja perundingan formal, namun bisa terjalin erat melalui sepiring makanan dan doa yang dipanjatkan bersama dalam satu saf.





































