Revolusi Pangan Berbasis Nuklir: BRIN Operasikan Fasilitas AEET untuk Sterilisasi Skala Besar

Depok (15/03/2026) – Indonesia memperkuat barisan ketahanan pangannya melalui sentuhan teknologi nuklir mutakhir. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memperkenalkan fasilitas Akselerator Elektron Energi Tinggi (AEET) di KST G.A. Siwabessy, Pasar Jumat, sebagai solusi inovatif untuk memperpanjang masa simpan komoditas nasional.

Fasilitas ini memfungsikan teknologi berkas elektron (Electron Beam/E-Beam) yang diklaim jauh lebih unggul dalam aspek kecepatan dan efisiensi dibandingkan metode iradiasi konvensional seperti Gamma atau Sinar-X.

Kecepatan Tinggi: 25 Ton Produk dalam 90 Menit

Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa keunggulan utama AEET terletak pada kapasitas pemrosesan yang masif. Teknologi ini mampu mensterilisasi hingga 25 ton produk hanya dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Kecepatan ini menjadi kunci bagi efektivitas sektor industri, khususnya pangan, kesehatan, dan kosmetik, yang membutuhkan standar sterilisasi tinggi tanpa mengorbankan waktu produksi.

“Teknologi E-Beam pada fasilitas AEET lebih mudah dikontrol dan jauh lebih cepat. Ini adalah tonggak penting dalam menyinergikan riset teknologi dengan kebutuhan nyata industri,” ujar Arif Satria dalam keterangan resminya, Minggu (15/3/2026).

Memperpanjang Masa Simpan Hingga Ratusan Hari

Aplikasi AEET memiliki spektrum yang luas, mulai dari bahan baku kosmetik, produk kesehatan, hingga komoditas strategis seperti beras dan makanan siap saji. Dengan proses iradiasi ini, produk pangan dapat memiliki masa simpan yang jauh lebih lama—bahkan hingga ratusan hari—tanpa merusak kandungan gizinya.

Kemampuan ini diproyeksikan bakal mendukung dua agenda besar pemerintah:

  1. Akselerasi Ekspor: Meningkatkan standar keamanan pangan agar mampu menembus pasar internasional yang ketat.

  2. Ketahanan Pangan Domestik: Mendukung program makan bergizi nasional melalui penyediaan bahan pangan yang lebih awet dan terjaga kualitasnya.

Proyeksi Ekonomi: Potensi Rp247 Miliar

Bukan hanya soal sains, kehadiran AEET juga membawa dampak ekonomi yang nyata. Melalui pola kemitraan dengan sektor industri, fasilitas ini diprediksi mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp247 miliar dalam kurun waktu lima tahun kolaborasi.

Pendapatan tersebut nantinya akan berkontribusi langsung pada penerimaan negara, sekaligus membuktikan bahwa inovasi berbasis riset dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi bangsa.

“Fasilitas AEET adalah bukti nyata bahwa sinergi riset dan industri dapat menciptakan ekosistem inovasi yang mandiri dan memberikan manfaat ekonomi konkret bagi Indonesia,” pungkas Arif.

Komentar

komentar

BAGIKAN