Mudik Digital 2026: Polri Kerahkan “Mata Langit” dan Kecerdasan Buatan untuk Amankan Arus Lebaran

Depok (14/03/2026) – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri resmi mengadopsi ekosistem teknologi mutakhir dalam Operasi Ketupat 2026. Dengan mengintegrasikan wahana tanpa awak (drone) dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), kepolisian berupaya meminimalisir titik buta (blind spot) dan mempercepat pengambilan keputusan rekayasa lalu lintas secara real-time.

Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur digital tahun ini jauh lebih matang dibandingkan periode sebelumnya.

Dualisme Fungsi Drone: Pemantauan dan Penegakan Hukum

Polri mengerahkan dua jenis drone strategis untuk mengawal jutaan pemudik yang bergerak di sepanjang jalur utama:

  1. Drone Command Center Mobile: Berfungsi sebagai “perpanjangan mata” di area yang tidak terjangkau jaringan CCTV statis. Data visual dari drone ini dikirimkan langsung ke pusat kendali untuk dianalisis sebagai dasar kebijakan contraflow atau one way.

  2. Drone ETLE: Difungsikan khusus untuk penindakan pelanggaran lalu lintas secara elektronik. Teknologi ini memungkinkan polisi tetap menegakkan hukum tanpa mengganggu kelancaran arus kendaraan.

Integrasi AI dan Traffic Counting

Sistem pengawasan tahun ini tidak lagi mengandalkan pantauan mata manusia semata. Analisa berbasis AI kini tertanam pada jaringan kamera di sepanjang Pulau Jawa, Sumatra, hingga Bali.

Teknologi Traffic Counting bertenaga AI bekerja secara otomatis menghitung volume kendaraan yang melintas di ruas-ruas krusial. Begitu angka kepadatan mencapai ambang batas tertentu, sistem akan memberikan notifikasi kepada pusat kendali di KM 29 untuk segera mengeksekusi langkah antisipasi.

K3I: Peta Digital dalam Satu Genggaman Kendali

Seluruh data dari lapangan bermuara pada aplikasi K3I (Kendali, Koordinasi, Komunikasi, dan Informasi). Aplikasi berbasis geospasial ini menampilkan dasbor komprehensif yang mencakup:

  • Aset Kepolisian: Posisi personel patroli secara live, lokasi pos terpadu, hingga jaringan kantor polisi terdekat.

  • Fasilitas Publik: Lokasi SPBU, rest area, rumah sakit, tempat ibadah, hingga destinasi wisata.

  • Titik Rawan: Pemetaan otomatis trouble spot (area kemacetan) dan blank spot (area minim sinyal/pantauan).

Pusat Kendali Terintegrasi KM 29

Pusat dari seluruh operasi digital ini berada di Pos Terpadu Rest Area KM 29 Tol Jakarta-Cikampek. Di sana, layar monitor raksasa mengintegrasikan ribuan feed video dari CCTV National Traffic Management Center (NTMC) serta jaringan kamera milik operator jalan tol Jasa Marga.

“Teknologi ini memungkinkan petugas memantau kondisi lalu lintas secara komprehensif dari satu pusat kendali, sehingga proses analisis data untuk mengambil keputusan menjadi jauh lebih cepat dan akurat,” jelas Komjen Pol Dedi Prasetyo, Sabtu (14/3/2026).

Dengan transformasi digital ini, Polri optimistis dapat mengelola lonjakan volume kendaraan dengan lebih saintifik, sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat selama perjalanan menuju kampung halaman.

Komentar

komentar

BAGIKAN