Jack: Menjaja Kabar di Pasar Baru, Merindu Hutan di Sela Garis Geodetik

Depok (15/03/2026) – Di sela keriuhan klakson dan tawar-menawar di kawasan Pasar Baru Bandung, seorang pria senja bernama Jack (70) tampak kontras dengan langkahnya yang tenang. Di tangan ringkihnya, terselip tumpukan lembaran koran—sebuah sisa kejayaan era cetak yang kini sedang berjuang melawan arus digital.

Namun, siapa sangka, pria yang setiap harinya menempuh perjalanan dari Kopo demi menyetor Rp7.000 untuk ongkos angkot ke Cikapundung ini adalah seorang ahli ukur tanah yang telah memetakan ribuan kilometer tanah air.

Penyintas Era Digital

Jack telah menjadi saksi bisu transformasi Kota Kembang sejak 1994. Baginya, koran bukan sekadar komoditas, melainkan janji kepada pelanggan lama yang enggan ia khianati. Meski digitalisasi perlahan mencekik pundi-pundinya—dari 50 lembar menjadi hanya 30 lembar sehari—Jack tetap bertahan.

“Semenjak ponsel berkembang dari tahun 2000 ke sini, peminat koran mulai berkurang,” tuturnya lirih. Tak jarang, ia harus menanggung utang ke agen atau terpaksa menjual koran sisa seharga Rp1.500 demi menutup setoran. Dengan margin keuntungan hanya Rp1.000 per lembar, Jack melakoni profesinya dengan ketabahan yang luar biasa.

Supervisor yang Merindukan Belantara

Di balik rompi sederhana penjual koran, tersimpan memori tentang teodolit dan koordinat. Jack adalah lulusan kursus Geodetik tahun 1986 di bawah bimbingan langsung pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB). Tangan yang kini membagikan berita itu, dahulunya adalah tangan yang mengoperasikan alat ukur presisi di hutan-hutan Aceh, Kalimantan, hingga Papua.

Sebagai mantan supervisor pengukuran, Jack mengakui ada kerinduan mendalam pada “lapangan”. Baginya, survei pemetaan bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah petualangan.

“Saya kalau tidak kerja begitu tuh rindu lapangan, soalnya enak, seperti petualangan masuk hutan,” kenang pria asal Bogor tersebut kepada detikJabar, Rabu (11/3/2026).

Dedikasi dan Harapan di Masa Senja

Keteguhan Jack didukung penuh oleh keluarganya. Jika panggilan proyek survei datang, sang istri dengan sigap menggantikan perannya berkeliling Pasar Baru. Baginya, tidak ada pekerjaan yang rendah selama itu memberikan martabat. Ketiga putra laki-lakinya kini telah lulus sekolah, bahkan si bungsu kini telah berkecimpung di dunia pemasaran berbasis teknologi—dunia yang secara ironis menggerus mata pencaharian utama sang ayah.

Kini, di usianya yang ke-70, Jack tetap setia pada rutenya. Di sela menjajakan berita, ia sesekali menawarkan jasa surveinya kepada relasi yang ia temui di jalanan. Bagi Jack, setiap lembar koran yang terjual adalah bukti bahwa pengabdian tidak mengenal kata pensiun.

Ia tetap menanti panggilan proyek pemetaan berikutnya, namun selama kaki masih mampu melangkah, ia akan tetap menjadi wajah akrab bagi para pembaca setia di sudut Pasar Baru.

Komentar

komentar

BAGIKAN