Depok (16/03/2026) – Peta kekuatan militer dalam konflik di Timur Tengah mengalami pergeseran signifikan setelah Pemerintah Iran secara terbuka mengakui adanya sokongan militer dari Rusia dan China. Pengakuan ini menegaskan posisi Teheran yang kini bersandar pada kemitraan strategis dengan dua kekuatan besar dunia tersebut guna mengimbangi tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa kolaborasi trilateral ini telah memasuki fase krusial, mencakup aspek politik, ekonomi, hingga bantuan teknis militer yang intensif.
Sinergi Militer Lintas Benua
Dalam wawancaranya dengan saluran televisi MS NOW, Araghchi menegaskan bahwa hubungan dengan Moskow dan Beijing bukan sekadar diplomasi formal, melainkan aliansi fungsional di tengah perang yang sedang berlangsung.
“Di masa lalu kami memiliki kerja sama yang erat yang berlanjut hingga hari ini, dan ini juga termasuk bantuan militer,” ujar Araghchi sebagaimana dikutip dari Politico, Senin (16/3/2026).
Laporan intelijen, termasuk pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, memperkuat klaim ini. Moskow diduga telah mentransfer teknologi drone dan data intelijen strategis ke Iran. Sebaliknya, Iran telah lama menjadi pemasok utama drone Shahed bagi Rusia dalam konflik di Ukraina. Sinergi ini kini membentuk sebuah siklus transfer teknologi militer yang sangat diwaspadai oleh Pentagon.
Blokade Selektif di Selat Hormuz
Di tengah eskalasi militer, Iran mulai menggunakan kendali geografisnya atas Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan ekonomi. Araghchi menjelaskan bahwa Teheran menerapkan kebijakan pembatasan selektif di jalur energi paling vital di dunia tersebut.
“Selat itu tidak tertutup untuk umum. Selat itu hanya tertutup bagi kapal dan tanker milik Amerika Serikat serta Israel,” tegas sang diplomat. Akibat dari ketegangan di koridor maritim ini, pasar energi global telah bereaksi keras dengan meroketnya harga minyak melampaui ambang batas USD 100 per barel.
Respons Washington dan Dinamika Ekonomi
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa keterlibatan Vladimir Putin di pihak Iran merupakan langkah balasan atas dukungan finansial dan militer Washington terhadap Ukraina. Trump menilai Rusia memanfaatkan konflik Timur Tengah untuk memecah konsentrasi dan sumber daya Amerika.
Sementara itu, peran China terlihat dominan pada sektor stabilitas ekonomi jangka panjang. Melalui perjanjian strategis 25 tahun yang ditandatangani pada 2021, Beijing memastikan aliran modal dan dukungan ekonomi tetap mengalir ke Teheran sebagai imbalan atas pasokan energi jangka panjang.
Kombinasi antara teknologi militer Rusia dan sokongan finansial China kini menjadi benteng utama Iran dalam menghadapi kampanye militer aliansi AS-Israel, sekaligus menandai berakhirnya dominasi tunggal Barat di kawasan Teluk.



































