Depok (16/03/2026) – Implementasi rencana perdamaian Gaza yang diinisiasi oleh Amerika Serikat memasuki babak baru. Laporan media nasional Israel, KAN, mengungkapkan bahwa pasukan stabilitas internasional, termasuk kontingen besar dari Indonesia, dijadwalkan mulai masuk ke Jalur Gaza pada 1 Mei 2026.
Langkah ini merupakan bagian dari fase kedua “Rencana 20 Poin” Presiden Donald Trump yang telah mendapatkan legitimasi internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 pada November 2025.
Komposisi Pasukan dan Strategi Penempatan
Kontingen internasional ini akan terdiri dari gabungan kekuatan militer beberapa negara. Indonesia dilaporkan akan mengirimkan sekitar 5.000 tentara, menjadikannya salah satu penyumbang pasukan terbesar. Selain TNI, personel militer dari Kazakhstan, Maroko, Albania, dan Kosovo juga akan turut bergabung dalam misi ini.
Menurut cetak biru operasi yang dilansir Anadolu Agency, Senin (16/3/2026), pengerahan akan dilakukan dalam beberapa tahap:
-
Fase Awal: Pasukan akan dipusatkan di sekitar pemukiman baru warga Palestina yang didanai Uni Emirat Arab di wilayah Rafah, Gaza Selatan.
-
Fase Perluasan: Operasi akan meluas ke wilayah lain, khususnya di sepanjang “Yellow Line”—garis demarkasi sementara yang memisahkan zona militer Israel dengan pemukiman sipil.
Agenda Persiapan Lintas Negara
Persiapan operasional akan diakselerasi dalam dua minggu ke depan. Delegasi militer dari negara-negara peserta, termasuk Indonesia, dijadwalkan tiba di Israel untuk melakukan survei lapangan (site visit) secara langsung.
Selain itu, mulai April mendatang, ratusan personel asing akan dikirim ke Yordania untuk menjalani pelatihan khusus sebelum diterjunkan ke zona konflik. Hal ini menyusul laporan intelijen pada Februari lalu yang menyebutkan bahwa persiapan logistik bagi ribuan tentara Indonesia telah dimulai.
Tugas Utama: Demiliterisasi dan Rekonstruksi
Struktur pemerintahan transisi Gaza, yang diumumkan Gedung Putih sejak Januari 2026, menempatkan pasukan internasional di bawah koordinasi dewan eksekutif khusus. Fokus utama pasukan ini meliputi:
-
Operasi Keamanan: Mengawasi stabilitas di wilayah transisi.
-
Demiliterisasi: Melucuti persenjataan kelompok-kelompok bersenjata, termasuk sisa-sisa kekuatan Hamas.
-
Logistik Kemanusiaan: Memastikan jalur distribusi bantuan makanan dan material rekonstruksi bangunan berjalan tanpa hambatan.
Legitimasi Internasional
Misi ini merupakan bagian integral dari kerangka kerja Dewan Perdamaian dan Dewan Eksekutif Gaza yang dirancang untuk mengakhiri perang berkepanjangan. Kehadiran TNI dalam misi ini mempertegas peran aktif Indonesia dalam diplomasi perdamaian dunia di bawah payung mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.



































