Depok (17/03/2026) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa militer AS memiliki kekuatan absolut untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz tanpa bantuan negara mana pun. Pernyataan ini dikeluarkan di tengah kebuntuan arus lalu lintas energi global di Teluk Persia yang dipicu oleh eskalasi perang antara aliansi AS-Israel dengan Iran.
Meski sebelumnya sempat meminta dukungan negara-negara mitra, Trump kini berbalik menekankan bahwa permintaan tersebut bukan didasari oleh kebutuhan operasional, melainkan sebagai bentuk pengujian sikap politik negara-negara lain.
Dominasi Militer Tanpa Syarat
Berbicara kepada wartawan pada Senin (16/3/2026), Trump menunjukkan sikap percaya diri terhadap kapabilitas pertahanan Amerika Serikat. Ia membantah bahwa dirinya sedang mendesak negara-negara sekutu untuk terlibat dalam misi maritim tersebut.
“Saya tidak mendesak mereka. Sikap saya adalah kami tidak membutuhkan siapa pun. Kami adalah negara terkuat dengan militer terkuat di dunia,” tegas Trump. Ia menambahkan bahwa upaya komunikasinya dengan negara-negara lain dilakukan hanya untuk memetakan reaksi global. “Beberapa (negara) sangat antusias untuk membantu, namun ada juga yang tidak,” tambahnya.
Dampak Kelumpuhan Jalur Energi
Krisis di Selat Hormuz ini merupakan imbas langsung dari pecahnya konflik bersenjata pada 28 Februari lalu. Serangan udara AS dan Israel ke jantung Iran, termasuk Teheran, yang memicu korban jiwa di kalangan warga sipil, telah dibalas oleh Iran dengan gempuran ke fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Konfrontasi ini mengakibatkan:
-
Penghentian Lalu Lintas: Jalur distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar dunia terhenti secara de facto.
-
Krisis Produksi: Gangguan keamanan di jalur perairan tersebut menghantam angka ekspor dan kapasitas produksi minyak mentah di seluruh kawasan.
Ketidakpastian Global
Pernyataan “mandiri” Trump ini muncul di saat pasar energi global sedang berada dalam ketidakpastian tinggi. Klaim sepihak mengenai kemampuan AS untuk menormalisasi Selat Hormuz tanpa koalisi internasional dipandang sebagai sinyal bahwa Washington siap mengambil langkah militer yang lebih agresif untuk mengamankan jalur suplai energi dunia, terlepas dari dukungan atau penolakan dari blok kekuatan lainnya.





































