Depok (20/03/2026) – Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, emas kembali membuktikan fungsinya sebagai aset safe haven yang paling likuid bagi masyarakat Jakarta. Tren pelepasan kepemilikan emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan, tercatat mengalami eskalasi signifikan di sejumlah sentra perdagangan emas, salah satunya di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat.
Fenomena ini menggarisbawahi pergeseran perilaku ekonomi warga yang memanfaatkan simpanan logam mulia untuk memenuhi lonjakan kebutuhan operasional hari raya serta persiapan hajatan pasca-Lebaran.
Likuiditas untuk Kebutuhan Hari Raya
Juwita, pemilik Toko Bukit Emas, mengungkapkan bahwa arus masyarakat yang menjual koleksi emas mereka mulai menderu sejak dua pekan sebelum Lebaran. Menurutnya, motivasi utama para penjual adalah untuk mendapatkan dana segar (cash) secara cepat guna keperluan belanja domestik hingga rencana pernikahan yang biasanya marak digelar setelah bulan Syawal.
“Peningkatannya cukup terasa dibanding hari biasa. Emas perhiasan seperti cincin, gelang, dan kalung menjadi yang paling dominan dilepaskan, meski ada juga yang menjual emas batangan,” ujar Juwita, Jumat (20/3/2026).
Perbandingan Tren: Dari Konsumsi ke Pencairan Aset
Berbeda dengan pola tahun lalu yang didominasi oleh aksi beli, tahun ini pasar justru melihat kecenderungan masyarakat untuk mengonversi aset emas mereka menjadi uang tunai. Rangga, seorang praktisi di toko emas kawasan yang sama, mencatat adanya lonjakan frekuensi kunjungan penjual yang cukup kontras.
“Saat ini trennya memang sedang tinggi untuk jual kembali. Jika pada hari biasa pengunjung cenderung landai, kini dalam sehari bisa mencapai 10 orang yang datang untuk menjual emas campuran—baik perhiasan maupun logam mulia batangan,” jelas Rangga.
Data lapangan menunjukkan beberapa poin kunci dinamika pasar emas jelang Lebaran 1447 H:
-
Waktu Puncak: Peningkatan signifikan dimulai pada H-10 hingga H-14 Lebaran.
-
Volume Harian: Rata-rata kunjungan penjual meningkat dari 4-5 orang menjadi hingga 10 orang per toko.
-
Jenis Aset: Didominasi oleh perhiasan (cincin, kalung, gelang) serta emas batangan bagi kelas investor tertentu.
Fenomena Musiman yang Teruji
Para pedagang menilai fenomena ini sebagai siklus rutin tahunan. Emas dianggap sebagai “tabungan darurat” yang paling diandalkan saat instrumen keuangan lain sulit diakses secara instan di tengah kesibukan persiapan mudik dan lebaran. Kapasitas emas untuk dicairkan kapan saja menjadikan logam mulia ini pilar utama ketahanan finansial rumah tangga di Jakarta saat menghadapi tekanan pengeluaran musiman.
Kondisi pasar di Cikini diprediksi akan terus sibuk hingga menjelang malam takbiran, seiring dengan masyarakat yang terus melakukan penyesuaian anggaran untuk merayakan kemenangan di kampung halaman.





































