Kronologi Detik-Detik Hilang Kontak 2 Jurnalis Republika Sebelum Ditawan Militer Israel

DEPOK (19/05/2026) –  Manajemen redaksi Republika membeberkan komunikasi terakhir dengan dua jurnalisnya, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, sebelum keduanya ditangkap oleh tentara Israel (IDF) di perairan internasional Mediterania Timur. Kedua jurnalis tersebut berada di armada terpisah dalam misi kemanusiaan global Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Jalur Gaza.

Hingga saat ini, pihak redaksi masih kehilangan kontak total setelah rentetan pesan darurat (SOS) dikirimkan dari tengah laut.

Garis Waktu Komunikasi Terakhir dan Sinyal SOS

Berdasarkan keterangan Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Stevy Maradona, situasi kritis di atas kapal terekam secara berkala melalui pembaruan yang dikirimkan kedua jurnalis sebelum saluran komunikasi mereka diputus paksa.

  • Pukul 13.50 WIB (Komunikasi Akhir Thoudy Badai): Thoudy sempat mengirimkan laporan situasi terkini berupa foto dan video dari atas kapalnya (Kapal Ozgurluk). Dalam pesan WhatsApp terakhirnya, Thoudy memprediksi bahwa intersepsi oleh militer Israel kemungkinan besar baru akan terjadi pada Senin malam waktu setempat. Setelah pesan ini, Thoudy hilang kontak.

  • Pukul 15.20 WIB (Sinyal Darurat Bambang Noroyono): Berada di kapal yang berbeda (Kapal Bolarize), Bambang Noroyono alias Abeng sempat mendokumentasikan pergerakan kapal perang IDF yang melaju mendekat ke arah kapalnya. Beberapa menit kemudian, Abeng mengirimkan video SOS ke pusat redaksi sebelum akhirnya konvoinya diintersep.

“Protokol resmi dari panitia pusat Global Sumud Flotilla memang mewajibkan seluruh delegasi langsung mengirimkan video SOS jika tentara Israel mulai mendekat dan naik ke atas kapal. Sejak video itu masuk, kedua jurnalis kami tidak dapat dihubungi sama sekali,” jelas Stevy, Senin (18/05) malam.

Kecaman Keras Redaksi: Jalankan Tugas Jurnalistik dan Kemanusiaan

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan bahwa keberadaan Bambang dan Thoudy di armada tersebut dilindungi oleh hukum humaniter karena sedang mengemban tugas jurnalistik sekaligus misi kemanusiaan universal. Diketahui, terdapat sembilan relawan asal Indonesia di dalam rombongan tersebut, termasuk jurnalis dari media nasional lainnya.

Andi menyatakan pihaknya mengecam keras tindakan sewenang-wenang militer Israel yang dinilai telah melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional terkait keselamatan jurnalis di wilayah konflik.

Respons Kemlu: Desak Pembebasan dan Pantau Jalur Komunikasi

Secara terpisah, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI langsung merespons situasi darurat ini dengan melayangkan kecaman keras terhadap aksi pembajakan kapal kemanusiaan di perairan sekitar Siprus tersebut.

Juru Bicara 1 Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa Direktorat Perlindungan WNI terus berupaya membuka jalur komunikasi dengan armada yang membawa warga negara Indonesia. Kemlu mendesak otoritas Israel untuk segera membebaskan seluruh awak, jurnalis, dan aktivis kemanusiaan tanpa syarat, serta memastikan pasokan bantuan internasional dapat didistribusikan ke Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

Komentar

komentar

BAGIKAN