DEPOK (19/05/2026) – Otoritas penyelenggara haji tingkat daerah mulai mematangkan strategi perlindungan bagi kelompok jemaah rentan menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 H / 2026 M. Kementerian Agama (Kemenag)* Kota Depok menegaskan bahwa klaster jemaah lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, serta jemaah perempuan akan mendapatkan pengawalan layanan prioritas secara khusus guna menjamin keselamatan fisik di tanah suci.
Berbagai persiapan teknis terus disinergikan antara Pemerintah Arab Saudi dengan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk mengantisipasi kepadatan massa dan cuaca ekstrem.
Optimalisasi Manajemen Alat Bantu Disabilitas
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok, Fauzan, mengimbau agar keluarga maupun jemaah yang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti) tidak perlu diselimuti kecemasan terkait mobilitas selama di lokas ibadah. Pihak PPIH diklaim telah melakukan pembenahan sistematis, berkaca dari evaluasi operasional tahun-tahun sebelumnya.
“Untuk jemaah disabilitas, seluruh manajemen pengurusan dan zonasi penggunaan kursi roda di fasyankes maupun kompleks ibadah sudah diatur polanya dengan sangat ketat oleh PPIH Arab Saudi,” urai Fauzan, Selasa (19/05).
Meskipun moda transportasi utama pergerakan antar-situs suci tetap mengandalkan armada bus, pemerintah menyiapkan opsi kontingensi mekanis bagi jemaah dengan indikasi klinis tertentu yang tidak memungkinkan untuk mengikuti aktivitas fisik reguler massal.
Mekanisme Murur: Solusi Cegah Dehidrasi dan Kelelahan Ekstrem
Salah satu langkah mitigasi krusial yang akan diimplementasikan secara masif tahun ini adalah aktivasi program Murur. Skema ini memprioritaskan jemaah lansia, penyandang disabilitas, jemaah risti, serta para pendamping sah mereka.
Definisi Teknis: Apa itu Skema Murur? Murur adalah sistem pergerakan jemaah pasca-menyelesaikan iktikaf wukuf di Arafah menuju Mina. Dalam skema ini, rombongan jemaah rentan hanya akan melintas secara perlahan menggunakan bus melewati wilayah Muzdalifah, tanpa diturunkan untuk bermalam (mabit) di hamparan terbuka tersebut.
“Skema Murur dijalankan sebagai solusi protektif. Jika kondisi fisik jemaah dinilai tidak memungkinkan atau berisiko tinggi apabila dipaksakan turun di Muzdalifah, mereka langsung dimasukkan ke dalam program ini,” jelas Fauzan.
Intervensi ini dinilai vital untuk melindungi sistem imunitas jemaah rentan agar tidak terpapar kelelahan ekstrem, ancaman dehidrasi akut, maupun risiko fatal akibat berdesakan di tengah jutaan jemaah global yang memadati kawasan Muzdalifah.
Target Capaian Ibadah
Melalui penguatan arsitektur pelayanan yang ramah lansia dan disabilitas ini, Kemenag Depok berharap seluruh tahapan rukun dan wajib haji dapat dituntaskan secara paripurna oleh para jemaah tanpa mengabaikan aspek keselamatan jiwa.
“Harapan besar kami, seluruh rangkaian ibadah yang dijalani Bapak dan Ibu jemaah asal Depok diterima di sisi Allah SWT, diberikan kelancaran dari berangkat hingga pulang, serta kembali ke tanah air dengan menyandang predikat haji yang mabrur,” pungkas Fauzan.




































