DEPOK (17/07/2026) – Geliat kebangkitan olahraga jotos tanah air di kancah internasional kini bersiap memasuki babak baru yang lebih menantang. Setelah sukses mengarsiteki gelaran bergengsi Asian Boxing U19 & U23 Championship 2026 yang berlangsung di Jakarta sepanjang 5-16 Juli lalu, Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina/Perbati) langsung memasang target tinggi berikutnya. Organisasi induk olahraga tinju nasional ini berkomitmen untuk menghidupkan kembali turnamen legendaris berskala dunia, Piala Presiden, sebagai kelanjutan dari momentum kebangkitan prestasi atlet lokal sekaligus memperkokoh posisi tawar Indonesia sebagai salah satu pusat tinju andalan di kawasan Asia.
Sekretaris Jenderal Perbati, Hengky Silatan, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mematangkan rencana pengembalian ajang internasional tersebut ke tanah air. Ditemui di Jakarta pada Jumat, 17 Juli 2026, Hengky menjelaskan bahwa target realistis pelaksanaan kejuaraan tinju Piala Presiden ini diproyeksikan bergulir pada tahun depan, mengingat agenda kalender turnamen untuk sisa tahun ini sudah terlampau padat dan tidak memungkinkan dari sisi persiapan teknis. Langkah strategis ini dinilai sangat krusial demi merawat iklim kompetisi yang kompetitif dan menghadirkan arena tempur berkualitas yang mempertemukan talenta-talenta lokal dengan barisan petinju tangguh mancanegara.
Keberanian Perbati membidik turnamen sekelas Piala Presiden didasarkan pada rapor kesuksesan ganda yang baru saja diraih dalam ajang Asian Boxing di Basket Hall, Senayan, Jakarta. Tidak hanya diakui andal dalam urusan manajerial operasional yang sukses mengoordinasi kehadiran 329 petinju muda putra dan putri dari 20 federasi nasional di Asia, skuad Merah Putih juga berhasil memecah rekor penantian panjang prestasi selama 34 tahun sejak era keemasan Hendri Simangunsong dan Albert Papilaya. Indonesia sukses mengamankan total tujuh medali yang terdiri atas satu emas, satu perak, dan lima perunggu, yang sekaligus membuktikan bahwa kualitas petinju muda nasional kini telah sejajar dengan kekuatan raksasa Asia lainnya.
Lebih jauh, Hengky menekankan bahwa kehadiran turnamen berkualifikasi internasional seperti Piala Presiden di dalam negeri sangat vital untuk mengasah ketajaman teknik, mental bertarung, serta jam terbang para atlet tanpa harus terus-menerus melakukan uji tanding di luar negeri. Pengalaman menghadapi lawan-lawan tangguh lintas benua ini diposisikan sebagai jembatan penting dalam program pembinaan jangka panjang Perbati. Pada akhirnya, seluruh rantai program kompetisi lokal dan regional ini dipersiapkan sebagai cetak biru taktis demi merealisasikan mimpi besar mengantarkan petinju-petinju terbaik Indonesia menembus batas persaingan global dan merebut podium tertinggi di panggung olahraga paling prestisius sejagat, Olimpiade.




































