DEPOK (21/07/2026) – Lembaga Sensor Film (LSF) terus memperluas jangkauan edukasi publik mengenai pentingnya memilah tontonan layar lebar secara bijak. Melalui agenda Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri yang dikemas dalam acara nonton bareng (nobar) film nasional di CGV Depok Mall pada Selasa, 21 Juli 2026, LSF berhasil menggaet antusiasme 332 peserta dari kalangan mahasiswa dan komunitas lokal. Langkah ini ditempuh sebagai upaya strategis untuk memasyarakatkan kriteria klasifikasi usia penonton serta membangun habituasi penonton yang cerdas di tengah gempuran ragam tayangan media saat ini.
Ketua LSF, Naswardi, mengemukakan pada Rabu, 22 Juli 2026, bahwa sosialisasi di Kota Depok ini memfokuskan sasaran pada sivitas akademika—seperti mahasiswa dan dosen—serta menggandeng elemen masyarakat seperti organisasi PKK, kader Posyandu, majelis taklim, dan berbagai komunitas. Kolaborasi erat turut dibangun bersama lembaga pendidikan tinggi, salah satunya Universitas Indonesia, guna memperluas jangkauan literasi sinema. Langkah edukatif ini dinilai mendesak mengingat hasil riset LSF pada 2023 menunjukkan baru sekitar 46 persen masyarakat, khususnya anak-anak, yang menonton film sesuai dengan batasan umur, sehingga berisiko tinggi terpapar konten yang belum layak konsumsi melalui gawai maupun media sosial.
Di samping mengedukasi publik, ajang ini dimanfaatkan LSF untuk memacu gairah industri film nasional yang tengah menunjukkan performa positif, di mana angka kunjungan penonton sinema domestik sempat menembus 80,2 juta orang pada tahun sebelumnya. Pada agenda nobar kali ini, LSF memutar dua karya film nasional yang sedang tayang di bioskop, yakni Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis, demi mendekatkan karya anak bangsa sekaligus mendongkrak apresiasi seni peran di masyarakat. Kehadiran ekosistem perfilman yang sehat ini juga memerlukan sinergi lintas sektor guna menjaga keberlanjutan industri kreatif tanah air.
Inisiatif LSF ini mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Depok yang diwakili oleh Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah. Depok dinilai memiliki infrastruktur dan pasar yang sangat potensial untuk menyokong perfilman nasional berkat menjamurnya jaringan bioskop modern di pusat perbelanjaan seperti Margo City dan Depok Mall, yang diimbangi dengan tingginya minat menonton warga lokal. Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan LSF seperti Noorca Massardi, Tri Widyastuti Setyaningsih, Gustav Aulia, Imam Safe’i, dan Satya Pratama, serta deretan tokoh industri film tanah air termasuk Ketua Umum BPI Fauzan Zidni, produser Agung Saputra, sutradara Ferly Halim, hingga aktris Annisa Aurelia Kaila. Melalui sinergi ini, LSF berharap budaya sensor mandiri dapat bertransformasi menjadi kesadaran kolektif yang melekat di tengah masyarakat.
































