DEPOK (22/07/2026) – Minat baca masyarakat di Jakarta mencatatkan tren kenaikan yang sangat signifikan sepanjang pertengahan tahun ini. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, mengemukakan bahwa akumulasi angka pengunjung perpustakaan di wilayah Jakarta hingga Juni 2026 telah menembus angka 913.545 orang. Lonjakan volume pengunjung ini mencerminkan pertumbuhan pesat sebesar 37,40 persen jika dibandingkan dengan capaian pada Triwulan I-2026. Menurut Atika pada Rabu, melesatnya angka literasi publik ini salah satunya terdorong oleh sambutan hangat warga terhadap pengoperasian kembali Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang yang menempati lantai 7 dan 8 Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, sejak resmi dibuka pada 7 Juli lalu.
Fasilitas membaca seluas 4.000 meter persegi tersebut sebelumnya sempat menghentikan operasionalnya pada 2020 sebelum akhirnya direvitalisasi total oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta. Kini, perpustakaan tersebut tampil dengan konsep, layanan, serta estetika yang jauh lebih modern dengan menyediakan lebih dari 20.000 eksemplar koleksi literatur, mulai dari Koleksi Serah Simpan, Koleksi Umum, Koleksi Referensi, hingga Koleksi Khusus Kejakartaan. Mengikuti jejak Perpustakaan Jakarta di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Perpustakaan Nyi Ageng Serang nantinya juga akan melayani pengunjung hingga pukul 22.00 WIB guna memfasilitasi kebutuhan membaca masyarakat urban di malam hari.
Peningkatan kuantitas pengunjung ini selaras dengan mutu tata kelola jaringan perpustakaan di bawah naungan Dispusip DKI Jakarta yang berhasil menyabet predikat A atau “sangat baik” dengan torehan nilai 90,14 pada aspek Mutu Pelayanan dan Kinerja Pelayanan untuk periode Triwulan II-2026. Evaluasi mutu ini merupakan buah dari Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) yang digelar menyeluruh di berbagai titik layanan, mencakup Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta, PDS H.B. Jassin, hingga jaringan perpustakaan umum di lima wilayah kota administrasi. Riset evaluatif tersebut melibatkan sebanyak 2.045 responden yang merepresentasikan keberagaman latar belakang usia, tingkat pendidikan, profesi, intensitas kunjungan, hingga inklusivitas bagi kelompok penyandang disabilitas.































